empati.

just try to put yourself under other people's shoes

 Kita mati, kehilangan empati. Saya, kamu, dia, mereka, dan ntah siapa. Mungkin sebenarnya sudah terkubur dalam sebuah kotak terpendam di dalam lautan dalam-dalam karena sibuk menyelamatkan diri sendiri. Saya tahu, kita punya kesibukkan masing-masing, saya juga tahu kita punya kepentingan masing-masing. Tapi, hidup kita hanya sekali bukan, lalu kalau kita hidup hanya untuk diri kita sendiri, apa gunanya Tuhan menciptakan kita?

 Saya merinding, bergidik, terperangah, hingga meneteskan air mata. Saya tak menyangka (baiklah, ini terlalu generalisasi) membaca opini-opini yang berseberangan hingga judgment yang dikeluarkan menghakimi pedagang Pocin dan mahasiswa UI. Saya tidak pernah ikut demo, tapi saya tak pernah menghakimi itu salah dan perbuatan saya benar. Saya merinding sekali membaca opini-opini dari mahasiswa lain yang menghakimi perbuatan teman-teman UI adalah perbuatan bodoh.

 Kita, yang membaca tulisan ini, mungkin tak pernah tahu rasanya terusir dari pekerjaan yang menghidupi kita, dan jika kita tak punya uang, kita tinggal butuh mengadu pada orangtua, merengek agar rekening bertambah nominalnya. Tapi pernahkah kita mencoba meletakkan perasaan menjadi pedagang, yang kalau lahan kerja kalian ditutup tak tahu harus kemana. Tak tahu harus mengadu kemana. Jika besok hujan harus berteduh kemana. Anak sekolah harus bayar pake apa.

 Coba teman bayangkan, jika diposisi mereka. Coba teman rasakan, apa yang akan-akan teman lakukan saat kehilangan mata pencarian satu-satunya.

 Dan teman-teman mahasiswa, saya ulangi kerasa MAHA didepan siswa - yang memiliki porsi ilmu dan kekuasaan- lebih dipilih orang-orang itu untuk menjadi tempat mengadu. Karena mereka tak punya lagi tempat mengadu, saat para pemerintah bahkan sudah tutup kuping atas teriakkan dan tangis mereka. Memang susah sekali yah, mengeluarkan empati untuk orang lain. Sekedar empati. Rasa sedih yang menimpa orang lain. Seperti diam, tak usah berkomentar negatif, atau mencaci membuat ricuh suasana. Kemudian berasa paling pintar dan sudah melakukan segalanya. Iyah, kita gampang benar terprovokasi kemudian langsung menghakimi.

 Para pedagang itu tidak butuh apa-apa, mereka cuman butuh bantuan untuk diperjuangkan hak-haknya. Lalu para kelas menengah ini, tiba-tiba dengan mulia kasih solusi, 'Cerdaskan pedagang sajalah daripada demo adik-adik mahasiswa.' atau, 'Gara-gara lu demo nih, jalan gue keganggu.' AH!

 Kemudian belum selesai saya menahan rasa getir, saya tak sengaja membaca berita, seorang calon hakim agung, bernama Daming, mengeluarkan pernyataan yang membuat saya getir dan meringis, "yang diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati. Jadi harus pikir-pikir terhadap hukuman mati." Saya kehilangan nafas, mencoba mencerna lagi, kemudian ada lanjutan beritanya, '... dilanjutkan dengan tawa para anggota DPR.' Ah, Bapak yang mulia di sana, dimanakah hati bapak-bapak sekalian. Tak pernah terpikirkah itu anakmu, istrimu, atau keluargamu yang diperkosa hingga mati. Tak pernah kau rasakan keluarga yang sedih menahun karena ditinggal mati.

 Ya, Tuhan. Saya hidup di negeri macam apa?

 Hidup kita sudah lama mati. Terbakar oleh kata-kata tinggi membangun negeri, sampai lupa tetangga yang tak lagi makan nasi.

review Cinta Di Ujung Jari 

 Cinta Di Ujung Jari menyuguhkan kisah cinta yang siap hidang. Cinta yang sudah ada di ujung jari dan kita tinggal duduk tenang menikmatinya. Seolah seluruh cinta di seluruh dunia dirangkum dan siap untuk ditelan. Tulisan Nayasari yang lugas dan tulisan Akhyar yang mengajak kita untuk merenung, merupakan kombinasi yang menarik dari buku ini. - Yunus Kuntawiaji

 Diam-diam saya selalu suka dengan tulisan-tulisan mereka berdua. Menggugah. Memberikan suatu pandangan yang berbeda tentang apa saja. Kisah “Arloji” walau sebelumnya sudah pernah saya baca, entah mengapa kembali hidup lagi memainkan hati, begitu juga dengan kisah “Naira-Utara”. Itulah kekuatan buku ini, bermain dengan hati. - Ana Monica Rufisa

 Cinta di Ujung Jari mengingatkan saya tentang hal itu, tentang salah satu hakikat cinta, bahwa ia tak hanya membuat kita berapi-api, lalu rela melakukan hal-hal besar, tapi terkadang cinta juga membuat dahi dan kening kita berkerut-kerut, tak paham tak mengerti. - Achmad Lutfi

 Naya dengan cerita Naira dan Utaranya yang sampai detik ini saya ragukan kefiksiannya, dengan gaya bahasa, sudut pandang ,dan definisinya sendiri tentang cinta dalam cerita tersebut. Kemudian Akhyar dengan kekhasannya pula bercerita tentang cinta dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan beberapa kisah cinta yang kadang aneh ditulis disini. Tapi itulah sudut pandang. - Kurniawan Gunadi 

 Buku bisa pesan di cintadiujungjari@gmail.com dengan format Subject : Pesan_Nama Details 

Penulis: Muhammad Akhyar & Nayasari Aissa
Ilustrator dan Pendesain Kulit Muka: Ragillia Rachmayuni 
Foto: Pravitasari Ilustrator Dalam: Sri Suryani 
Penata Letak: Dian Kusumawardhani 
Date Published: Januari 2013 
Type: SOFT COVER 
No. of Pages: 120 halaman 
Penerbit: Langit Sastra Harga Rp. 60.000,- (diluar ongkos kirim), seluruh keuntungan penjualan diberikan untuk @SBMatahari. 

Sila dipesan, terimakasih :)

dua desember dua ribu dua belas


karena hidup itu tentang memilih, saya selalu percaya ini. dan saya, seharusnya, bersyukur karena selalu dihadapkan pada pilihan, setidaknya.

dan setelah waktu itu saya telah memutuskan hingga sejauh ini. ah iyah, jika saya boleh jujur, maka, tentu perjalanan ini tidaklah mudah. berapa banyak hal yang akan kita korbankan bersama. hidup saya, hidup kamu, untuk hidup kita nanti. 

saya, tentu, sejauh ini (lagi) sudah mengalami perasaan yang turun-naik tak menentu. baikkah ini? benarkah ini? inikah yang terakhir? ah iyah, Tuhan jago betul dalam urusan membolak-balikkan perasaan. tidak, saya tentu tidak ingin menyalahkan Tuhan atas kuasaNya, saya hanya menjadikan Tuhan sebagai alibi atas kelemahan saya, atas ketidak-tahuan saya, atas perasaan gelap tentang masa depan. salah kah saya (Tuhan)?

di dekatnya aku lebih tenang, bersamanya jalan lebih terang.

saya tak tahu ini benar atau salah, tapi setelah saya berbincang banyak padaNya, dan setelah menimbang ini dan itu. dan terus meyakinkan pada diri -untuk jalan yang kabur satu ini- saya hanya ingin percaya padaNya, saya juga ingin berbaik-sangka padaNya, bahwa Dia akan menuntun saya dan kamu (kita) pada jalan terbaik dariNya,

iyah, jika memang ini adalah pilihan dari-Nya. 

untuk kamu - masa depan.

Pertanyaan Tentang Tuhan


Tiba-tiba saya menyadari, bahwa saya sangat kecil dan lemah sekali jika dibandingkan dengan kekuasaanNya. Sungguh, kalau dipikirkan kembali apalah artinya saya, tanpaNya.

Sayajuga menyadari bahwa ternyata saya tidak ada kuasa apapun terhadap diri saya sendiri, atas keberjalanan semua hal dalam hidup. Saat saya sedang rapuh dan terjatuh, saya butuh 'sesuatu' yang menyokong saya agar tetap bangkit lagi. Dan saya tidak menemukannya kepada siapapun selain Tuhan. Saya seringsekali menangis, dan diam-diam saya berbicara denganNya dengan bahasa yang hanya dipahami 'kami' berdua. Entah mengapa saya menjadi lebih aman, lebih tenang. Ah iyah saya lupa, bahwa kita ini adalah makhluk sosial, tidak akan benar-benar bisa mengatasi kesepian dan kesendirian. Sekalipun disaat kita benar-benar merasa ingin sendiri, kita tetap ingin ditemani.

Benar kalau ada yang mengatakan, bahwa Tuhan, diciptakan 'manusia' untuk menyatakan, bahwa sebenarnya kita ini seringkali berada dalam ketiadaan dan kekosongan. Tapi di sanalah Tuhan bersemayam.

Tuhan, membuat saya aman, nyaman dan tidak merasa sendirian. Ada tempat yang mampu diandalkan walau Dia tidak terlihat. Bahwa hidup ini adalah tentang kepercayaan. Saya menuhankan Dia, yang tidak terlihat dengan kasat mata, karena saya butuh pegangan dan 'sesuatu' yang saya percayai itu.

Tapi kepercayaan, juga, berhubungan dengan pertanyaan. Bagi saya, iman itu adalah sebuah pertanyaan. Begitu juga cinta adalah sebuah pertanyaan. Iman dan cinta saya pada Tuhan, seringkali menjadi pertanyaan besar dan terus menerus yang tidak pernah selesai. Tapi bagi saya itulah kuncinya. Semakin saya mempertanyakan, saya  merasa makin 'menemukannya' dengan cara yang berbeda. Saya malah khawatir, jika suatu saat saya tidak bertanya-tanya lagi tentang Dia, jangan-jangan saya sudah membunuhNya dari hati saya, hingga Dia larut dan menggenang lalu hilang.

Zakaria

Saya mau cerita dulu, saya suka suka banget dengan sebuat kalimat penuh pasrah dari seorang Nabi kita bernama Zakaria, isinya begini,

'… Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu ya Tuhanku..'

Kalau bagi saya, doa ini terlampau bagus sekali (tentu saja karena yang berdoa itu adalah Nabi), di sini posisinya Zakaria sedang mengadu, meratap betapa dia galau karena belum memiliki keturunan untuk meneruskan tugasnya. Saat itu umur Zakaria (kalau tidak salah) hampir menyentuh 100 tahun #cmiiw. Berarti selama 100 tahun sebelumnya, dia sudah mengalami banyak hal dalam hidupnya, sudah banyak yang dilalui, tapi tak pernah sedikitpun dia kecewa atas doanya, kepada Tuhannya. Di sini tersirat juga rasa syukur yang begitu besar, saya memaknainya rasa syukur tentang apapun yang telah dia lalui atas apapun yang terjadi pada seratus tahun ke belakang.

Dan jika diserap lagi maknanya (menurut saya, semoga Allah mengampuni saya), ada begitu besar kepercayaannya kepada Tuhan penciptaannya. Sungguh mulia Zakaria AS, nabi kita semua. 
Hidup ini dimulai dengan kata percaya. Muhammad Saw itu memiliki julukkan yang 'terpercaya'. Dan Khadijah adalah orang yang paling mempercayai beliau, untuk mempercayai tentang Tuhan yang diceritakan Nabi Saw. Semuanya dimulai dengan kata percaya. Lalu kita ikut mempercaya Muhammad atas pesan-pesan dari Tuhan yang dibawanya. 

Menurut hadits Arba'in, tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Kalau dari pandangan saya Islam (dengan rukun Islamnya) dan Iman (dengan rukun imannya), adalah saling melengkapi. Islam artinya kita melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuhan, syahadat, shalat, puasa, bayar zakat, dan naik haji bila mampu, tapi takkan lengkap jika kita tidak beriman kepada Tuhan, Malaikat-malaikatNya, RasulNya, KitabNya, Hari AkhirNya, dan ketentuan-ketentuan tetap (Qada dan Qadar-Nya). Kita takkan bisa berIslam saja, tanpa beriman, dan takkan sempurna jika berIman tanpa berIslam. Kemudian tahap ketaatan paling tinggi adalah Ihsan, percaya bahwa dia melihat segala yang kita lakukan. 

Semuanya dilandasi dengan rasa percaya. Zakaria percaya kepada Tuhan akan dikabulkan doaNya. Dan Muhammad butuh kepercayaan umat agar mampu berdakwah dengan baik, dan dengan baiknya pula Tuhan mengirimkan Khadijah padanya. Dan semua ini karena sebuah hal bernama takdir.

Takdir yang telah ditetapkan Tuhan saat kita masih berbentuk nutfah di dalam rahim, yang kemudian Tuhan dengan sigapnya menuliskan di Lauhul Mahfuz pada data-data kita. Luar biasa. Bukan Tuhan tentunya jika tak mampu mengatur segala hal dengan sedemikian sempurna.

Dari sini, saya mau menarik benang merah dari tulisan saya. Zakaria dalam doanya, ada kepasrahan, ada rasa syukur yang begitu besar, ada rasa kepercayaan akan takdir-takdir selanjutnya dan juga sebelumnya. Dan Zakaria AS, sukses membuat saya berfikir panjang saat membaca doa yang dia panjatkan. Percaya akan takdir yang telah dibuat Tuhan untuk kita semua. Einstein bilang, Tuhan tidak sedang bermain dadu dalam menciptakan dunia ini, termasuk segala isinya. Tentu mereka yang mengaku muslim harus percaya, bahwa takdir utama kita diutus untuk hidup di dunia sesuai dengan perintahnya yaitu,

'... Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu.'

Sesederhana itu. Dia tidak menciptakan manusia, kecuali untuk menyembahNya, yah tentunya pengertian ayat ini akan berlanjut pada penjelasan yang panjang, dan tidak akan saya tuliskan di sini.

Sungguh, saya menuliskan ini karena terlalu lama bergemuruh di dalam otak dan harus segera dilahirkan. Kepada Allah saya mohon ampun. Jika ada kritik sila di sampaikan. Wallahu a’lam bish shawabi ~
10 Oktober 2012

Jadi begini. Ntah mengapa beberapa hari ini saya terus-terusan memikirkanmu, tidak secara spesifik memikirkanmu, karena saya benar-benar tidak tahu siapa kamu, dimana kamu, dan sedang apa kamu (for reader’s information, saya sedang tidak menyanyikan lagu Kangen Band, sungguh). Yang pasti saya benar-benar clueless tentang kamu, karena itu saya sedikit berdebar-debar jika membayangkan tentangmu.

Saya membayangkan, jika suatu saat kita, ehm, -sebut saja bertemu karena memang sudah takdirNya yang membawa kita berdua untuk bertemu- apakah saya sudah benar-benar siap untuk bertemu dengan kamu (dan begitu juga kamu), kemudian -dengan sedikit geli saya harus mengatakan- menjalin cinta dan kasih yang juga sudah ditakdirkanNya kepada kita berdua.

Kamu, mungkin saja lelaki yang sudah saya kenal sejak lama tapi tak pernah saya perhatikan dengan seksama. Atau bisa saja salah satu dari sahabat-sahabat lelaki (gila) saya saat ini -tapi sungguh semoga tidak. Atau kamu adalah musuh politik saya sewaktu menjadi aktivis kampus. Atau mungkin kamu adalah lelaki yang pernah membaca buku yang sama di sebuah toko buku yang saya dan kamu kunjungi. Atau malah bisa jadi kita tak pernah mengenal sama sekali, tak pernah berada di ruang dan waktu yang sama (bisa saja saya di Selatan dan kamu di Utara di arah mata angin milik kita berdua) tapi Tuhan mengikat kita dengan seutas benang merah yang tak pernah kita ketahui.

Kamu biasa siapa saja. Dan saya tidak akan pernah tahu sampai kita benar-benar bertemu, kemudian kamu datang ke ayah saya dengan segala keberanian yang kamu miliki.

Jika saya egois, tentu saya akan berdoa pada Tuhan bahwa kamu harus berambut gondrong, hitam manis, rapih dengan kemeja dan celana jeansmu, lalu rokok Gudang Garam, dan tidak ketinggalan motor Tiger merahmu. Tapi saya tidak hanya ingin satu-dua hari bersamamu, saya ingin berhari-hari menghabiskan hidup denganmu. Karena saya rasa semua kriteria yang saya sebutkan di atas, saya tak yakin bisa membawa kamu, saya, dan anak-anak kita ke surga. Tapi saya janji, saya akan selalu berdoa semoga kamu bisa menjadi imam yang baik bagi saya dan ayah yang amanah bagi anak-anak kita kelak.

Karena hidup saya nantipun, tidak akan jadi hidup saya sendiri lagi. Hidup saya akan jadi bagian hidupmu, dan begitu sebaliknya. Dan hidup kita akan menjadi hidup anak-anak kita kelak, karena hidup mereka adalah bagian dari hidup kita.

Saya tahu terlalu picisan saya menuliskan ini untuk kamu yang bahkan ntah siapa. Tapi sungguh saya tidak tahu lagi harus berbuat apa (selain berdoa dan mengadu padaNya). Anggap saja ini bentuk ke(tidak)sabaran saya menunggu makin didekatkannya benang-benang penghubung kita berdua oleh-Nya.

Untuk kamu -yang bisa siapa saja-, selamat malam (sungguh semoga segera kita berada pada dimensi -ruang dan waktu- yang sama, aamiin).

Menikah

Beberapa minggu yang lalu, waktu saya ngobrol panjang dengan Kak Kaca, banyak hal yang menyadarkan saya tentang hal bernama ‘menikah’. Pada saat saya berumur 19 tahun, itu sekitar 4 tahun yang lalu (astaga tua banget gue cuy!), saya sebenarnya bercita-cita menikah di umur 20 tahun, dan itu tanpa persiapan dan juga tanpa usaha untuk mendapatkan jodoh yang tepat. Saya pengen nikah, biar ada ‘temen halal’ yang bisa diajak kemana saja dan kapan saja, tanpa perlu risih. Dan ternyata, saya belum berhasil mewujudkan mimpi saya yang waktu itu.

Setahun yang lalu, saya bercita-cita kembali, ‘harus banget nikah tahun 2012’. Alasannya? Saya mau punya temen hidup satu visi-dan-misi yang mampu menemani saya untuk mencapai mimpi-mimpi saya, dan tentunya menjaga ‘segala’ yang telah saya miliki saat ini, termasuk stabilitas iman. Suami itu menurut saya, adalah orang yang paling tepat (setelah ibu) yang mampu menjaga stabilitas iman yang sering naik-turun. Apalagi, kehidupan pasca-kuliah itu, mengerikan (kata orang-orang), yang pasti kita kehilangan teman-teman dekat yang dulu selalu ‘menjaga’ kita dengan aman. Belum lagi, bagi saya, pasca-kuliah itu, pencarian jati diri yang sesungguhnya dimulai, idealisme-idealisme masa menjadi mahasiswa dulu mulai diuji kesungguhannya, istiqomah atau tidak diri kita ini atas apa yang sudah dibangun dulu. And, for sure, we need life-long-partner to remind us, walking beside us, together and forever.

Setelah mengobrol banyak dengan beberapa orang tentang menikah. Saya menarik kesimpulan bagi saya sendiri, menikah itu adalah keberuntungan, dimana kesiapan bertemu dengan kesempatan, dan keberuntungan itu yang kita buat sendiri. Menikah itu bukan lagi jadi sekedar kebutuhan, dimana kita butuh life-long-partner hanya sekedar untuk mengingatkan kita bangun pagi, ngingetin tahajud, shalat, puasa, ngaji, dan berlaku baik-baik, menikah tidak sesederhana itu.

Kitalah, diri kita sendiri yang seharusnya bisa konsisten untuk melakukan itu semua. Saya tidak ingin menikah untuk berubah jadi lebih baik, dan saya juga nggak kepingin memperbaiki diri agar bisa menikah. Saya mau jadi manusia yang baik -sesuai dengan keinginan Tuhan saya- yah untuk diri saya sendiri, bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk apa-apa.

Tahun lalu saya merasa bersalah sekali dengan diri saya, dan sulit sekali memaafkannya. Dan (bodohnya) saya pikir dengan menikah bisa menyelesaikan masalah saya. Karena, saya tidak akan galau lagi. Karena saya punya temen ngobrol sepanjang malam. Karena saya akan mencari orang yang juga gemar membaca buku, biar saya punya teman diskusi sepanjang waktu. Tapi bukan itu, point-nya ternyata. Kak Kaca mengingatkan saya, dia bilang, ‘Kalau kamu belum ‘selesai’ dengan dirimu sendiri. Bagaimana mungkin menambahkan orang lain, Dek.’ That’s the point. Dan saya tersadar, benar-benar tersadar. Saya harus selesai urusan dengan diri saya sendiri. Saya tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Menikah juga buka perlombaan. Waktu saya tahu sahabat baik saya menikah tahun lalu, ada perasaan ‘gue juga mauuu tahun ini’. Tahun ini bahkan, orang-orang terdekat saya malah mulai menikah satu-per-satu. Takut ditinggal? Pasti! Mungkin kalau di arena balap, kita boleh saling mendahului. Dan menikah tidak terjadi di arena balapan. Ini masalah nikah! Masalah menghabiskan sisa 2/3 umur kita, dan jangan sampai gelap mata karena liat orang lain bisa duluan, lalu kamu jadi tergesa-gesa dan ingin mendahului. Karena setiap orang, sudah punya takdirnya masing-masing, and the importan things that you must remember is, you’ll have your own fate. Your prince charming, will come at the right time and with right reason.

Saya selalu berangan-angan, life-long-partner saya ini seperti apa sih nantinya. Setiap perempuan (begitu juga laki-laki) pasti punya ‘checklists’-nya sendiri. Ada yang ingin ganteng, tinggi, jago basket (anak SMA banget ini, haha), mantan aktivis kampus, atau hobi baca buku. Tapi, kamu yakin, orang-orang yang sesuai dengan checklist ini adalah yang tepat bagi kamu? Kadang mereka yang dikirimkan oleh Tuhan -dan berbeda jauh dengan ‘checklists’ milik kamu ini- adalah yang paling tepat kamu. God always knows what you need, guys. Tapi walau, Tuhan Maha Baik dan Maha Tahu Segalanya atas kebutuhan kita. Saya percaya Dia tidak egois, Dia adalah tempat curahan terbaik. Dia tahu, tapi Dia menunggu. Dia tahu yang terbaik buat kita, tapi Dia menunggu kita untuk memohon agar makin meyakinkan Dia bahwa kita percaya dengan pilihan terbaiknya. Dan doa akan selalu jadi kuncinya.

Saya ga tau, prince charming saya ini datang kapan. Hari ini, besok, bulan depan, tahun depan, atau tiga tahun lagi. Kayak saya bilang di atas, menikah itu salah satu bentuk keberuntungan, dia datang saat kesiapan bertemu dengan kesempatan. Jadi saya cuman butuh siap-siap (dan tidak berhenti berdoa), jika nanti kalau kesempatannya udah datang, i can face it!

‘Getting married isn’t going to solve our inabilities to wake up for Fajr or get up for qiyam. We need to develop our own selves without expecting marriage to somehow magically change our lives. Marriage can be a great tool of self-improvement and can help us change for the best, with Allah’s will. Marriage is amongst the greatest blessings that Allah (swt) can bestow on a person; and the creation of a family, and taking care of that family, is amongst the greatest acts of worship. But if we are not personally working on ourselves now, how can we expect that it will be easier with the additional baggage of another individual who is also imperfect?’ - Maryam Amirebrahimi 

Terimakasih yang merelakan waktunya untuk membaca tulisan ini, selamat pagi dan semoga kebaikkan selalu bersama dengan kita! Aamiin!

Tentang Al Quran

Bismillah.

Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakanmu.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari sabtu dan minggu, saya datang ke dua buah seminar (atau majelis ta'lim mungkin yah) yang berbeda, tetapi kedua-duanya sama-sama membahas tentang Al Quran. Melalui tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi ilmu apa saja yang saya dapat pada kedua hari tersebut.

Hari Pertama.

Acara ini sebenarnya berupa seminar keluarga, dengan judul acara 'Membangun Keluarga Generasi Qur'ani' yang diadakan oleh teman-teman PESIAR UI di Masjid Ukhuwah Islamiyah jam 9 pagi hingga menjelang zuhur. Ada lima pembicara, Ust. Budi Dharmawan dan anaknya (mereka adalah suami dan putera alm. Ustadzah Yoyoh Yusroh), Ustadzah Aan Rohanah, Wirdah Salamah Ulya (hafidzah dari Ust. Yusuf Mansyur), dan Faris Jihady (Hafidzh).

Dari judulnya, kita pasti sudah menebak bukan isi acara ini keseluruhan, apalagi pembicaranya yang kesemuanya adalah penghafal Al Quran.

Pada obrolan singkat ini, saya merasa mendapatkan angin segar betapa penting seorang muslim mengerti kitabnya dengan baik dan benar. Apalagi bagi seorang muslim, AL Quran dan Sunnah Nabi adalah pedoman paling utama untuk para muslim.

Pada acara ini, para pembicara masing-masing memaparkan tentang latar-belakang kenapa perlu seorang muslim menghafal Al Quran, dan mereka juga berbagi tips agar  kita dimudahkan dalam mempelajari AL Quran. Pembicara awal adalah Ust. Budi yang merupakan suami alm. Yoyoh Yusroh, yang menceritakan bahwa pentingnya sebuah keluarga yang ingin menjadi generasi sebaik generasi para sahabat Rasul saw, yang dimulai dari membangun keluarga sendiri. Karena, sebuah peradaban pasti terdiri dari keluarga-keluarga kecil di dalamnya. Jika ingin menghasilkan generasi yang mencintai, mengamalkan, dan menghafal Al Quran tentu harus dimulai dari keluarga sendiri. Dan untuk memulai membangun keluarga yang baik adalah dengan mulai mencari calon ibu/ayah yang baik bagi anak-anak kita kelak.

Yang paling menyentuh adalah saat putri Ust. Yusuf Mansyur bercerita tentang bagaimana dia memulai untuk menjadi seorang hafizah. Pada saat dia berumur 8 tahun, dia pernah bermimpi didatangi oleh Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a, intinya, Rasulullah berpesan, jangan mudah menyerah untuk menghafal Al Quran karena Allah pasti memudahkan umatNya yang ingin menghafal. Wirdah juga memberikan tips bagi mereka yang ingin menghafal yaitu, menjaga pandangan dan menggunakan hijab. Subhanallah, di umur yang baru menginjak 11 tahun, sudah menjadi seorang hafizah, pernah bertemu Rasulullah bahkan dibacakan surah Muhammad. Rasanya waktu mendengar cerita ini, badan saya merinding dan mengharu biru hingga meneteskan air mata. Malu betul. Bagi yang ingin juga menyimak ceritanya sila menonton disini.
Singkat cerita, dari acara ini mengajarkan saya untuk menjadi muslim yang jauh lebih baik lagi, saya tidak tahu kelak saya bisa seperti mereka atau tidak menjadi seorang hafizah, tapi mencoba tidak ada salahnya bukan? Karena Allah pasti memudahkan umatNya yang bersungguh-sungguh, sungguh itu janjiNya. Yang pasti saya sungguh ingin berterimakasih kepada PESIAR UI dan para pembicara, semoga Allah selalu merahmati mereka.

Hari Kedua.

Acara ini diadakan oleh (sepertinya) Nurul Fikri, saya juga kurang tahu sebenarnya, hahaha. Jadi ini sejenis majelis ta'lim dimana saat saya datang isinya seluruhnya ibu-ibu rumah tangga #baiklah.

Disini ilmu yang saya dapatkan tentang sejarah turunnya Al Quran, mulai dari asal muasal arti Al Quran yaitu yang berasal dari kata Qara'a yang artinya bacaan. Al Quran juga dianggap sebagai mukjizat terbesar bagi Rasulullah, dan penutup bagi kitab-kitab yang pernah ada. Disini juga dijelaskan, mengapa Al Quran sebagai mukjizat bagi Rasulullah, bukan mukjizat yang didapatkan oleh Musa a.s ataupun Isa a.s. Karena, turunnya suatu mukjizat sesuai dengan kondisi dan keadaan bangsa pada masa tersebut. Pada masa hidupnya Rasulullah saw, kaum Quraish menyukai syair-syair, maka karena itulah Allah melalui malaikat jibril menurunkan Al Quran yang begitu indah bahasanya. Hingga saat ini, belum ada yang mampu menandingi indahnya bahasa Al Quran.

Membaca Al Quran, kebaikannya dihitung per huruf, karena itu, sungguh besar amal kebaikan saat membaca Al Quran. Al Quran di turunkan kepada Rasulullah secara mutawatir, artinya berurutan, tidak langsung. Karena ayat-ayat ataupun surah-surah pada Al Quran memiliki kandungan tersendiri, karena fungsinya menyesuaikan kondisi pada saat itu. Misalnya, ada surah yang turun karena menjawab pertanyaan-pertanyaan atau keadaan pada masa itu. Selain itu, turunnya Al Quran tidak sekaligus, agar mempermudah proses menghafal bagi Rasul dan para sahabatnya.

Surah-surah Al Quran terbagi menjadi dua kategori, yaitu makiyyah dan madaniyah. Kategori makiyyah turun saat Rasulullah saw belum hijrah, biasanya berisikan tentang aqidah, akhlak, dan juga kisah-kisah nabi terdahulu dan kategori madaniyah yaitu surah yang turun setelah Rasulullah hijrah.

Al Quran adalah satu-satunya kitab yang tidak pernah mengalami perubahan walau Rasulullah sudah wafat, mushaf (lembaran-lembaran) Al Quran yang kita baca saat ini sama persis dengan yang Rasulullah dapatkan dari malaikat Jibril. Karena itu, pentingnya bagi seorang muslim menghafal Al Quran adalah untuk menjaga keaslian Al Quran. Dengan membaca tajwidnya dengan benar pada setiap ayatnya, tentu Al Quran akan selalu terjaga kemurniannya hingga akhir zaman. Adapun kewajiban seorang muslim lainnya terhadap Al Quran yaitu, mengimaninya dari surah pertama hingga surah ke 114, mengamalkannya, kemudian mendakwahkannya - walau kita tidak perlu menjadi penceramah, cukup dengan mengamalkannya hingga mampu dicontoh oleh muslim lainnya.

Di akhir ceramah Ustad mengatakan, bahwa mungkin menghafal Al Quran ataupun mempelajarinya akan terasa sulit, tapi Allah selalu berbaik hati dan memudahkan bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sekian tulisan singkat saya tentang Al Quran, jika ada salah kata kepada Allah saya mohon ampun. Semoga yang membaca mampu mengambil manfaatnya, dan mampu meneruskan mampu membangun generasi Qur'ani seperti pada zaman sahabat-sahabat Rasulullah saw. Semoga Allah selalu memudahkan niat baik bagi yang selalu bersungguh-sungguh. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Tulisan lain tentang Penghafal Al Quran hasil datang dari Sekolah Perempuan Annisa Gamais ITB (tahun lalu).

selamat ulang tahun ke 110, bung! :)

Istri Soekarno Atau Istri Hatta?

Sebuah pesan singkat masuk di telepon genggam saya sore ini, 'istri Soekarno atau istri Hatta?'. Ntah apa maksud pengirimnya, yang pasti saya dengan sigap langsung menjawab, 'istri Hatta kak! Fix!'

Setelah mengirim pesan tersebut, saya jadi kepikiran kenapa yah saya lebih suka dengan Bung Hatta ketimbang Bung Karno? Mungkin karena Hatta asalnya dari Padang, sama-sama orang Sumatera. Baiklah alasan ini tidak terlalu logis, tapi memang seperti itu, biasanya orang satu pulau, lebih satu pikiran. Hatta dan Soekarno itu sama-sama penulis, sama-sama pembaca buku, bahkan setahu saya Hatta lebih 'maniak' dibandingkan Soekarno. Kalau tidak salah, Hatta itu memiliki sebuah perpustakaan pribadi, dengan koleksi buku (termasuk tulisan dia) sebanyak 30ribu. Yang paling kocak, tentang Hatta dan buku, adalah waktu dia dan Sjahrir di Digoel, dimana dia harus merelakan 6 peti buku yang dia bawa, karena harus membawa 3 anak angkat mereka. Dan, saya juga lebih banyak punya buku-bukunya Hatta ketimbang Soekarno, artinya Hatta memang lebih produktif menulis dibandingkan Soekarno.

Untuk masalah kepribadian, saya memang lebih suka Hatta yang -saya anggap- lurus dan tidak neko-neko. Tidak banyak omong, tetapi jika dia sudah bersuara, apa yang dia katakan, kalo kata anak jaman sekarang, makjleb semua. Tapi Hatta dan Soekarno itu saling melengkapi. Walau Hatta tidak lebih baik dibandingkan Soekarno, dan Soekarno juga tidak lebih baik dibandingkan Hatta. Makanya, dulu pasangan ini diagung-agungkan oleh rakyat Indonesia, walaupun hubungannya harus kandas di tengah jalan.

Bahwa Hatta itu lebih sederhana jika dibandingkan dengan Soekarno, informasi ini saya dapatkan dari beberapa buku sejarah tentang mereka yang saya baca. Beberapa waktu yang lalu pula, saya sempat membaca tulisan di Kompas, yang menceritakan tentang perbedaan negarawan dulu dan politisi jaman sekarang. Di artikel tersebut, diulas kembali mengapa Hatta menjadikan 'Alam Pikiran Yunani' sebagai mas kawinnya untuk Bu Rahmi, sederhana saja, harta yang paling berharga bagi Hatta adalah buku. Berbeda sekali dengan politisi-politisi saat ini yang orientasinya lebih keuang, tak heran banyak sekali koruptor kembali menjajah negeri ini habis-habisan.

Dari yang saya tahu, bagi saya Hatta adalah muslim yang baik, terlepas dari banyak cerita miring antara Hatta dan Islam, saya meyakini dia memiliki alasan tersendiri. Tapi dari tulisan-tulisan dia yang saya baca, dia sudah mencapai kriteria 'suami-muslim-idaman' standar saya.

Jadi, setelah tulisan panjang ini, walau ntah apa maksud pesan singkat itu, tapi interpretasi dari saya, saya akan lebih memilih menjadi istri Hatta dibandingkan istri Soekarno. Soekarno memang baik, lelaki ambisius nan romantis dan gombal, tapi mungkin, saya akan menghabiskan hidup dengan penuh kecemburuan, karena romantisme suami saya harus dibagi-bagi dengan wanita lain. Ntahlah, saya tak rela. Tentu saya ingin menghabiskan dengan lelaki yang hanya mencintai saya saja, seperti Bung Hatta ke Bu Rahmi, semoga! Hahaha.

By the way, terimakasih Kak Kaca, untuk pesan singkatnya!
top