salah siapa? pemberi atau penerima?

akhir-akhir ini, sering kali penayangan di televisi pemberian zakat oleh para dermawan
para kaum papa tersebut mengantri demi uang puluhan ribu
sayangnya, pemberian zakat itu menjadi ricuh,
ntah karena pemberi zakat tidak memaksimalkan panitia mengatur pemberian zakat, atau
para kaum fakir dan miskin tersebut tidak bisa diatur
yang saya lihat setiap kali menonton tayangan tersebut adalah
para pengantri zakat berdesak-desakkan, seolah-olah tidak akan kebagian zakat, mereka berebut barisan, benar-benar tidak rapi, benar-benar tidak disiplin

apakah ini cermin rakyat Indonesia yang tidak disiplin?

tahun lalu, senin tanggal 15 September 2008, sebanyak 21 orang kaum miskin, harus tewas terinjak-injak, demi 30 ribu rupiah, uang yang mungkin bagi beberapa orang adalah angka yang kecil untuk, tapi bagi mereka, 30 ribu sangat berarti, sayangnya, 30 ribu tersebut malah menjadi petaka bagi mereka, 30 ribu seharga dengan nyawa mereka

siapakah yang salah disini?
ntahlah, mungkin tidak ada yang salah, atau mungkin salah kedua-duanya

mungkin, seharusnya, mereka pemberi zakat, bisa belajar dari peristiwa yang terjadi dari tahun ke tahun, kalau, memanggil penerima zakat datang ke pemberian zakat tersebut, mengakibatkan kericuhan
kenapa tidak melakukan cara lain untuk memberi zakat?
misalnya, menyalurkan langsung ke orang-orang yang benar-benar membutuhkan, tepat sasaran, dan saya yakin, tidak akan menimbulkan kericuhan yang tidak diharapkan

semoga, pembagian zakat-zakat selanjutnya, bisa berlangsung tertib, aman, dan nyaman, tanpa menimbulkan korban, semoga para pemberi zakat bisa mendapatkan ridha dari Allah SWT dengan uang mereka, dan semoga para penerima zakat bisa mendapatkan rahmat dari zakat yang mereka terima, amin

1 komentar:

bergas bimo branarto mengatakan...

menurut gw yang salah adalah si pemberi. kalo lu mau zakat, ngebagiin makanan atau uang, atau bantuan apa pun, datengin lah ke tempat pihak yang akan lu kasih bantuan. (sama kaya pembagian daging saat idul qurban).

justru dengan 'mbuka lapak' untuk nampung orang yang mau ngambil zakat itu, menurut gw niat si pemberi zakat udah berubah dari 'mambantu' jadi 'nyari popularitas'.

ini pandangan subyektif gw, silakan didebat.

top