these walls are funny. first you hate the, the you get used to them. enough time passes, you get so you depen on them. that's institutionalized - Red in The Shawshank Redemption
tiap nelp pagi, ibu selalu nanyain, udah shalat dhuha belom?
Adapun keutamaan-keutamaan sholat Dhuha di antaranya:Pertama, sholat Dhuha merupakan salah satu wasiat Nabi, dalilnya adalah hadits dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Kekasihku (Nabi Muhammad) mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dalam tiap bulan, melakukan dua rakaat sholat Dhuha dan melakukan sholat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim)
Kedua, sholat Dhuha dapat mencukupi sebagai sedekah bagi tiap ruas tulang bani Adam. Hal ini berdasarkan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Tiap pagi ada kewajiban sedekah bagi tiap ruas tulang kalian, Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)Ketiga, sholat Dhuha merupakan sholatnya orang-orang yang bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatnya orang-orang yang bertaubat adalah pada saat berdirinya anak unta karena teriknya matahari.” (HR. Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahumallah dalam Penjelasan Riyadush Shalihin menjelaskan bahwa sholat yang dimaksud adalah sholat Dhuha. Hadits ini juga menjelaskan bahwa waktu paling afdhol untuk melakukan sholat Dhuha adalah ketika matahari sudah terik.
Mengenai surat-surat yang dibaca setelah surat Al Fatihah, maka sepanjang pengetahuan kami, tidak ada dalil-dalil yang menyatakan tentang surat-surat khusus yang dibaca pada sholat ini. Jadi, kesimpulannya adalah boleh membaca surat apapun dalam Al Quran pada sholat Dhuha. Wallahu a’lam bishshowwab.Doa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah selepas shalat dhuha adalah :"Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan-Mu". "Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi , keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh".
- Pilihlah seorang laki-laki yang berbakti kepada ibunya, menjaga adik perempuannya dan membantu kakaknya. Itulah laki-laki yang tau arti penting seorang wanita, memahani “respect to a woman”
- Pilihlah yang dengannya hatimu terglitik untuk semakin mendekatkan diri pada Allah. Yang dengannya rasa cintamu untuk Rasul semakin kau asah. Yang dengannya, buku-buku agama memenuhi perpustakaan kecil milikmu dan Quran menjadi lantunan akrab telingamu. Dengan begitu dirimu akan tetap terjaga
- Pilihlah seseorang yang dapat menjadi ayah panutan untuk anak-anakmu. Yang kualitas pribadinya kau inginkan dalam karakter putramu kelak.
- Pilihlah seseorang yang bisa menjadi sahabatmu saat segala “api cinta” mulai berubah mendewasa
- Pilihlah seseorang yang akan selalu menjadi orang pertama yang ingin kau beritahu segala update keseharianmu
- Pilihlah seseorang yang ikut memikirkan masa depan mimpimu, membangun mimpi bersama, tidak sekedar mengejar mimpinya
- Pilihlah seseorang yang memahami batas-batas agama agar dapat menegurmu atas alasan itu
- Pilihlah seseorang yang mau melanjutkan hidupnya denganmu, mau tua bersamamu, dan mau melewati segala cobaan dengan tetap ada dirimu
galau = "[a] ber.ga.lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekalo; kacau tidak keruan (pikiran)"
Qadar, adalah sesuatu yang telah diketahui sebelumnya dan telah tertuliskan, dari apa-apa yang terjadi hingga akhir masa. dan bahwa Alla Azza wa Jalla telah menntukan ketentuan para makhluk dan hal-hal yang akan terjadi, sebelum diciptakan sejak zaman azali. Allah subhanahu wa Ta'ala pun mengetahui, bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan pengetahuan-Nya dan dengan sifat-sifat tertentu pula, maka hal itu pun terjadi sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya (Lawaami'ul Anwaar al-Bahiyyah, as-Safarani, (I/348))
Qada, menurut bahasa ialah: Hukum, ciptaan, kepastian dan penjelasan
bahwa yang dimaksud dengan qadar adalah takdir, dan yang dimaksud dengan qadha adalah penciptaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala"maka Dia menjadikan tujuh langit...," [Fushilat: 12]yakni, menciptakan semua itu.
jika ada orang yang menyontek maka nilai kita baik, jika nilai kita baik maka IP kita baik, jika IP kita baik, kita gampang dapet kerja, kalo kita udah kerja, kita dapet gaji, nah, gaji kita kan di pake buat makan, akhirnya hasil dari contekkan itu mengalir ke darah kita, kalo kita punya anak, di darah anak kita mengalir darah hasil contekkan, dan begitu seterusnya...
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikkan - Soe Hok Gie
Tulisan ini, bukan untuk mengumbar tentang kemiskinan orang lain, tapi tulisan ini saya buat agar saya, kamu, kita, bisa belajar dari kejadian ini. Jika ada kesalahan dalam penulisan ini, saya minta maaf dan kepada Allah saya mohon ampun, dan jika ada yang merasa tersirat kesombongan di sini, biarlah Allah yang menghukum niat buruk saya.
Namanya Restu, 18 tahun, Jakarta, orangtuanya sudah berpisah. Ibunya sempat jadi TKW tetapi saat ini bekerja sebagai pengasuh bayi, ayahnya di papua. Restu pernah membawa nama sekolahnya di OSN Matematika tingkat DKI Jakarta. Hidup di saat SMA dibiayai oleh orangtua asuhnya tetapi saat ini sudah tidak lagi, sehari-hari menjadi guru bimbel bagi teman SMA-nya sendiri. Restu adalah satu-satunya siswa SMA 58 Jakarta yang diterima di jalur undangan untuk kuliah di ITB.
Mungkin karena sistem jalur undangan ini, baru digunakan pertama kali, banyak miskomunikasi di sini. Kurangnya informasi dari pihak ITB kepada sekolah-sekolah yang mendapatkan jalur undangan, menjadikan alasan betapa banyak siswa-siswa SMA yang telah diterima melalui jalur undangan akhirnya batal masuk ITB karena kesalahan pengisian uang pangkal. Karena satu-satunya murid yang diterima di jalur undangan, sekolahnya (Restu) memutuskan untuk mengisi BPPM (uang pangkal masuk ITB) sebesar 50% karena alasan jika mengisi kesanggupan membayar uang pangkal 0% takut tidak diterima. Padahal dari pihak ITB sendiri tidak pernah mengeluarkan pernyataan, potongan atau diskon mempengaruhi chance untuk masuk ITB. Dengan mengajukan uang pangkal dengan potongan sebesar 50%, sekolah berharap setelah Restu diterima, Restu bisa mendapatkan dari pihak ITB. Kenyataannya Restu tidak punya uang sebanyak 27,5 juta, dan Restu mencoba untuk meminta keringanan, tetapi ditolak dengan alasan birokrasi dan kesepakatan di awal bahwa Restu telah menandatangani surat dengan materai akan mengikuti aturan di ITB membayar uang pangkal sejumlah 27,5 juta dengan tambahan 1 juta sebagai uang matrikulasi. Saya memaklumi alasan pihak ITB ini.
Saya tak mengenal Restu, awalnya. Terimakasih Joko Wisnugroho, adik tingkat saya, yang mem-publish kisah Restu di Twitter. Saya terdorong untuk membantu Restu, tapi karena saya sendiri tidak bisa menyumbangkan banyak uang, apalagi sampai 27.5 juta. Akhirnya, saya menyanggupi untuk menemani Restu selama di Bandung, karena Wisnu (panggilan Joko Wisnugroho) harus kembali ke Jakarta, akhirnya sayalah yang membantu untuk mengurusi keperluan Restu mendaftar di ITB sambil mencari dana untuk menutupi 28.5 juta. Saalahnya saya, saya meminta bantuan kepada teman-teman mahasiswa yang notabene-nya belum memiliki penghasilan, akhirnya saya mencoba mem-publish kisah Restu di Grup Keluarga Besar Fisika ITB, dan alhamdulillah ada respon yang cukup baik dari kakak-kakak PPIS, walau masih belum menutupi pembayaran uang pangkal Restu.
Saya mencoba menghubungi anggota kabinet KM ITB, hingga akhirnya saya meminta bantuan Menko Penkesma (CMIIW), Adit PT, dan Adit akhirnya membantu saya untuk mengkomunikasikan kasus Restu ke Pak Brian (Kepala Lembaga Kemahasiswaan ITB, CMIIW). Dari Adit, saya mendapatkan informasi, bahwa Restu buat saja surat pernyataan keterangan tidak mampu, dan saat mendaftar (tanggal 31 Mei 2011) di Sabuga, Restu dapat menyerahkan ini.
Saya juga mendapatkan informasi untuk menghubungi Ibu Mindri di CCAR lanta IV, dari ibu Nurjehan di bagian TPB. Akhirnya, hari ini saya menemani Wisnu bertemu ibu Mindri, tapi di Gedung Annex, saya tidak ‘diizinkan’ bertemu ibu Mindri, saya akhirnya bertemu ibu (yang mengakunya) bernama ibu Resti. Beliau menyuruh Restu, untuk menyetorkan uang yang Restu punya, saat ini uang yang Restu punya sebesar 20,5 juta rupiah, Restu harus melunaskan uang matrikulasi sebesar 1 juta dan sisanya untuk BPPM sebesar 19,5 juta. Sedangkan sisa-nya Restu harus meminta keringanan saat mendaftar di Sabuga, tanggal 31 Mei 2011, besok. Dengan membawa bukti pembayaran yang telah Restu lakukan.
Akhirnya, saya, Restu, ibu-nya Restu, dan 3 orang anak SMA (yang sudah berbaik hati menemani Restu, padahal hanya kenal melalui Facebook, luar biasa ke-solid-an anak-anak ITB 2011 ini), kami menuju ke BNI, mengikuti saran dari ibu Resti. Melunaskan keuangan Restu. Pembayaran selesai, kami tinggal menghadap ke pihak panitia, besok, 31 Mei 2011, dengan membawa bukti pembayaran yang telah dilakukan Restu, kemudian dari informasi yang saya dapatkan dari Adit, Pak Brian mengatakan, besok ada jalur khusus untuk kasus seperti Restu. Saya, ibu Restu, dan Restu lega, untuk sementara.
Tadi sore, saya mendapatkan telepon, dari mamanya sahabat saya, Laura Valencia. Sejujurnya saya tidak tahu siapakah Mama-nya Laura, apa jabatannya, yang pasti, dia mengerti betul sistem jalur undangan ini. Panjang lebar mengobrol, Mama-nya Laura mengatakan saya, seharusnya ibu Resti (dari pihak Rektorat) tidak memiliki hak untuk menyuruh kami membayarkan uang dengan anggapan sisanya bisa dilunaskan nanti. Menurut Mama-nya Laura, Pembantu Rektor III-lah yang memiliki kewenangan seperti itu. Dia menyayangkan tindakan kami dan ibu Resti, karena menurut dia, sistem yang digunakan pada pembayaran ini adalah sistem komputer, jika pembayaran kurang, makanya sistem akan menolak dan nama Restu tidak terdaftar untuk pendaftaran besok paginya. Karena itu Mama-nya Laura menganjurkan saya, untuk menemani Ibu-nya Restu untuk menghadap Pembantu Rektor III untuk meminta keringanan.
Walau baru mengenal Restu, saya melihat semangat besar yang dimiliki Restu untuk melanjutkan pendidikannya di ITB. Memang ada yang bilang, tempat kuliah itu sama saja, jika tidak mampu untuk berkuliah di ITB, kenapa harus di paksakan. Bagi saya, kita tidak berhak mematikan mimpi seorang manusia. Apalagi Restu sempat bilang ke Ibu-nya,’Restu ga akan minta apa-apa lagi dengan Ibu, Restu cuman ingin kuliah di ITB, Restu mohon dibantu Ibu’. Akhirnya Ibunya pun mengalah pinjam sana-sini, terkumpulah 20,5juta itu. Ntah bagaimana cara mengembalikan 20 juta sekian itu, masalah nanti, yang penting Restu diusahakan agar bisa masuk di ITB. Bahkan Restu berjanji dengan ibu-nya, setelah masuk di ITB, Restu tidak akan menyusahkan keluarganya dengan meminta sepeser rupiahpun, Restu akan mencari biaya sendiri agar bisa bertahan hidup di ITB.
Besok, Restu akan mendaftar di Sabuga, dan saya akan menemani Ibu-nya Restu untuk bertemu Pembantu Rektor III. Saya mohon doa bagi siapapun yang membaca tulisan saya ini, agar kami diberikan kemudahan, agar Restu bisa diterima di ITB melanjutkan mimpi dan cita-citanya di Matematika ITB, aamiin.
Bagi saya, Restu hanyalah salah satu dari sekian dari siswa SMA yang bermimpi untuk mendapatkan pendidikan yang sama baiknya dengan yang lain, Restu juga merupakan contoh dari ketidak-adilan sistem pendidikan yang dibuat oleh pemerintah. Di luar sana, percayalah, masih banyak Restu-Restu lain yang berjuang keras agar bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik, semoga nasib baik bersama mereka, aamiin. Dari tulisan tentang Restu ini, saya juga berharap, semoga kita (mahasiswa) sadar bahwa menjadi mahasiswa itu impian banyak orang diluar sana, dan janganlah kita mengecewakan mereka dengan menyia-nyiakan kesempatan yang telah kita dapatkan, kawan. Semoga ke depannya, sistem informasi yang dibuat oleh pihak ITB bisa lebih baik lagi. Semoga sistem pendidikan Indonesia lebih adil lagi bagi siapapun, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan dana. Aamiin.
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Merdeka!
Nayasari Aissa
Fisika 2007
- gue phobia sama zombie semenjak menelan mentah-mentah Resident Evil, Dawn of The Dead, dan segala macam film dan serial zombie
- gue pengen punya anjing, banget
- gue cuman pengen punya satu anak saja, pengen ngerasain hamil itu kayak gimana, tapi tetep pengen punya banyak anak asuh dari seluruh dunia
- gue suka makanan pedas, mungkin karena orang sumatera
- gue sulit berhenti ngomong kalo udah ngomong
- gue sanguinis, menjawab nomer 5, hahaha
- gue pengen nikah muda, kurang dari 25 tahun
- gue tergila-gila sama inggris, mulai dari tiap piala dunia dukung inggris, pengen S2 disana, tergila-gila Harry Potter, Pangeran Harry, all the things about Inggris
- gue makan nasinya sedikit, ngemilnya banyak
- gue punya alergi dingin, dulu msg
- tiap hari minum kopi
- kata orang-orang sih gue jago masak #sombong
- kalo udah sayang sama orang, gue bakalan sayang banget sama orang itu
- ga bisa hidup tanpa gadget, buku, duit, udara, air, dan makanan
- udah bisa baca umur 3-4 tahun
- udah puasa sebulan dari TK
- setelah Tuhan, Zombi, gue paling takut sama nyokap gue
- ga bisa benci/marah/kesel sama orang lama-lama
- pengen punya tas Chanel, aseli, pake duit sendiri belinya
- pengen kerja di NASA
sekian
Tulisan ini hanya kumpulan kata-kata yang terpendam di kepala, jika ada kesalahan kata, mohon maaf dan kepada Allah dengan segala kesempurnaanya saya mohon ampun.
Gue pengen banget nulis tentang positif thinking. Tadi, gue abis ng-tweet tentang seorang anak yang ingin masuk ITB, tapi terkendala biaya, kemudian gue ‘berbagi’ cerita tentang dia, siapa tahu ada teman di timeline twitter yang ingin membantu. Kemudian, ada sebuah mention yang cukup bikin gue kaget,
Seseorang : kan lu orang kaya nay?
Terus gue bales,
Gue : -,-“
Dan dijawab sama dia,
Seseorang : bantu pake duit sendiri dulu, biar orang lain termotivasi dan ngasi bantuan.
Gue bales lagi,
Gue : kan gue ga perlu bilang kalo gue bantu
Dan dibales lagi sama dia,
Seseorang : kalau ga bilang ga ada yang tahu
Ini yang membuat gue terpana, seseorang ini memiliki cara berfikir yang positif dan out of the box.
Kenapa gue terpana? Gue sempet dikritik habis-habisan oleh salah seorang temen gue, gue ngerasa dipermalukan banget, sebenernya. Gara-garanya gue menuliskan pandangan gue tentang kesedihan gue melihat banyak temen-temen gue yang berlomba-lomba ikut Indonesia Mengajar, tapi padahal di sekitar kita banyak anak-anak terlantar yang butuh pendidikan, seharusnya kita bisa menjadi guru tanpa perlu menunggu untuk ikut Indonesia Mengajar, padahal Indonesia Mengajar sendiri adalah gerakan yang niatnya untuk membangun rakyat Indonesia lebih peduli dengan pendidikan. Temen gue, punya pandangan lain, dia berfikir kalo gue terlalu sombong, dia juga berfikir gue lagi pamer dengan apa yang telah gue lakukan di SKHOLE. Padahal, tidak sedikit pun niat gue ingin pamer, gue hanya ingin orang-orang sadar bahwa you can do something, walau ga ikut Indonesia Mengajar, lo bisa mulai dari lingkungan terdekat lo sendiri. gue khawatir orang-orang yang ikut Indonesia Mengajar hanya mengejar prestige, bayangin ada 4000-an orang yang ikut Indonesia Mengajar, coba kalo empat ribu-empat ribu itu bisa jadi guru di daerah masing-masing, gue yakin pendidikan Indonesia akan lebih baik lagi ke depannya.
Gue sedih banget waktu di kritik, tapi bagi gue hidup adalah pembelajaran dan detik ini, gue berterimakasih atas kritikan tersebut, gue bersyukur gue dikritik kayak gitu gue malah jadi lebih belajar untuk berfikiran positif. Coba kalo gue marah-marah terus atas kritikan tersebut gue ga bakalan pernah dewasa, karena ga bisa liat sisi positif dari kritikan tersebut, nantinya gue malah uring-uringan sendiri. Sisi positif yang gue dapet gue juga ga boleh men-judge orang lain segampang itu, niat orang siapa yang tahu sih? iyah kan? gue malah seneng karena sudah diingatkan dengan kritikan itu :)
Untuk siapapun yang sering berfikiran negatif terhadap sesuatu (termasuk diri gue sendiri yang masih sering banget negative thinking sama orang lain), mari kita belajar bersama untuk berfikiran positif.
Gue punya suatu kasus. Dulu, gue sering kesel kalo liat artis atau pejabat atau siapapunlah yang ‘pamer’ kalo sedekah harus dilipu sama stasiun televisi, gue mikir mereka terlalu pamer, ngasih ajah pake dipublish di tv, katanya-kan kalo kasih sesuatu tangan kiri ga boleh tahu. Tapi sadar ga? Kalo kita terus berfikiran negatif, kita bakalan rugi sendiri. Kalo menurut gue, saat gue bilang orang-orang yang di tv itu pamer atau sombong atau riya, siapa yang tahu sih niat mereka sebenarnya tulus atau ga saat mereka sedekah, dan nanti malah kita sendiri yang berdosa karena sudah ber-suuzhon dengan mereka. Kalo gue pribadi, gue berusaha mecari segi positif dari apa yang mereka lakukan, gue sendiri melihat mereka sedang memotivasi orang lain untuk berbuat baik kepada sesama. Kadang, manusia itu tidak akan melakukan sebelum ada yang memulai, dan gue rasa mereka (artis/pejabat/siapapun) yang berbuat baik dan kemudian ditontonkan adalah sebenernya untuk menjadi inspirator bagi orang lain, masalah niat mereka baik atau tidak itu mah, biarlah Tuhan yang menilai.
Di sini, bukan berarti nyuruh kalo kita lagi sedekah, terus kita harus pamer dan diumbar-umbar ke orang lain. Bukan! Gue cuman pengen mengajak untuk berfikiran positif atas apa yang kita lihat, karena kadang ga semua yang kita fikir salah, itu salah, dan begitu sebaliknya. Kadang ada tempat-tempatnya kapan kita harus berfikiran negatif dan berfikiran positif. Yah, ga ada ruginya untuk berfikiran positif terhadap yang orang lain lakukan, kalo kita bisa belajar dari mereka, malah lebih baik lagikan?
oh iyah satu lagi, saat banyak kritikan dari orang lain yang menyerang kita, kita harusnya bisa ngeliat sisi positifnya, kalo kata sahabat gue,
'sebenernya saat ada orang lain mengkritik kita, padahal kita sudah niat baik, anggap saja mereka itu iri sama kita, karena kita bisa melakukan sesuatu dan mereka tidak'
jadi intinya, positive thinking is good for ourself. whatever people say, we must keep going on and trust ourself that we do is the right thing.
hidup ini adalah pembelajaran, salah ga apa-apa toh, asal bisa belajar dari kesalahan :)