date a girl who writes

a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

Buy her another cup of coffee.

Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas and for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry, in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

She has to give it a shot somehow.

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who understand that all things will come to end. That you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilightseries.

If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.

Or better yet, date a girl who writes.
Rosemarie Urquico

tentang SKHOLE (lagi)


Hampir satu tahun saya 'mengurusi' bayi yang bernama SKHOLE, sebentar lagi umurnya bertambah satu. too much word that i must use to write about SKHOLE, but i'll start from,

Apa sih SKHOLE?
Mungkin masih banyak yang belum paham tentang SKHOLE, tentang tujuan yang dibawa, mimpi besar yang dimiliki, sampai apa saja yang dilakukan oleh SKHOLE. Kemunculan SKHOLE berlatarbelakang akibat ketidakpuasan dalam metode implementasi dari sistem pendidikan yang dibuat pemerintah di dunia pendidikan atau dengan kata lain kami berupaya 'mengkritik' implementasi sistem pendidikan yang dibuat pemerintah dengan adanya SKHOLE.

Kami melihat, saat ini sistem pendidikan hanya menghasilkan robot-robot tanpa jiwa, yang tidak bisa memilih apa yang mereka ingin lakukan, kita (anak-anak Indonesia) dipaksa untuk menelan mentah-mentah suapan-suapan pelajaran-pelajaran yang bahkan kita tidak tahu gunanya apa. Kita (katanya) dibiarkan menjadi mesin-mesin industri tanpa jiwa, tanpa hasrat, tanpa keinginan. mungkin tidak semua manusia hasil sistem pendidikan Indonesia, berhasil menjadi robot seperti yang saya katakan, tapi bukankah kebanyakan dari kita seperti itu? Berapa banyak dari kita yang ingin belajar A, tapi kita dipaksa untuk B karena (katanya) B bisa membuat masa depan lebih baik, lebih sukses.

Dengan latar belakang-latar belakang tersebut, SKHOLE diharapkan (suatu saat nanti) menjadi contoh bagi sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Bahwa SKHOLE, diharapkan bisa memanusiakan manusia, manusia yang memiliki keinginan untuk belajar karena mereka ingin, bukan karena mereka harus, amin.

SKHOLE sendiri memiliki tujuan besar lainnya yaitu sebagai wadah pembelajaran bagi masyarakat tentang bidang-bidang keilmuan yang ada di ITB, dimana SKHOLE menjadi sekolah besar, dengan himpunan dan unit sebagai kelas-kelas tempat belajar apapun, dan SKHOLE diharapkan bisa menjadi wadah pengembang karakter mahasiswa ITB itu sendiri. SKHOLE, nantinya, diharapkan menjadi laboratorium bagi mahasiswa ITB untuk berbagi ilmu yang telah mereka dapatkan ke masyarakat di sekitar ITB.

Kenapa namanya SKHOLE?
SKHOLE merupakan bahasa Yunani, artinya waktu luang. SKHOLE pada masa Yunani, adalah cikal bakal dari sekolah atau school yang kita dapatkan sekarang. tapi tentunya, SKHOLE dulu berbeda dengan SEKOLAH saat ini, dulu anak-anak zaman Yunani belajar apa yang mereka ingin belajar dan kepada orang-orang yang memang memiliki keahlian di bidang tersebut, hal yang menarik mereka ber-SKHOLE pada saat waktu bermain mereka. Jadi perbedaan SKHOLE dengan sekolah yang mendasar adalah, belajar yang diinginkan dan pada waktu bermain.
itulah jiwa SKHOLE yang ingin dibawa, kami ingin menanamkan bahwa belajar itu menyenangkan, bahwa kamu seharusnya bisa belajar apapun yang kamu ingin belajar bukan kamu belajar karena kamu harus belajar.

Apa yang dilakukan SKHOLE?
Dari latar belakang yang telah dijelaskan di atas, kami mencoba membantu dari hal yang paling sederhana, mengajarkan passion bahwa belajar itu menyenangkan kepada adik-adik dalam masa perkembangan, yaitu adik-adik sekolah dasar. dimana kami juga berusaha mencoba mencari tahu, 'bakat' apa yang sebenarnya dimiliki oleh adik-adik tersebut, karena kenyataannya tiap-tiap manusia memiliki masing-masing bakat. Sampai pada tahap ini, kami mencoba membagi dua macam kurikulum yang kami gunakan, yaitu kurikulum pendidikan formal dan kurikulum pendidikan nonformal.

Tentang kurikulum pendidikan formal, yang dimaksud di sini adalah kurikulum yang biasa digunakan oleh sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Kami membantu pendidikan adik-adik dari keluarga kuranag mampu, agar bisa belajar lebih baik lagi. Karena kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia tidak merata. kenapa saya bilang seperti ini, karena semakin kurang memuaskan kualitas suatu guru, maka dia akan ditugaskan di sekolah dengan predikat kurang memuaskan pula, dan begitupula sebaliknya. Adik-adik kami dari keluarga mampu, hanya mampu bersekolah di sekolah dengan kualitas kurang baik, sehingga sistem pembelajaran mereka kurang baik, dan akibatnya kualitas adik-adikpun jarang sekali yang sebaik adik-adik di sekolah dengan kualitas baik. dengan kurikulum pendidikan formal dengan metode yang berbeda dari sekolah biasa, kami mencoba membantu meng-upgrade adik-adik kami, agar sama berkualitasnya dengan adik-adik yang lain.

Tentang kurikulum pendidikan informal, yang dimaksud di sini adalah, bagaimana adik-adik kami bisa tahu bahwa mereka masing-masing memiliki keunikan. keunikan di sini adalah bahwa setiap manusia di ciptakan berbeda, hakikatnya manusia pasti memiliki satu dari 9 kecerdasan yang ada. karena itu, kami berusaha untuk membantu adik-adik kami, menemukan dan mengasah kecerdasan yang mereka miliki.

Ke depannya?
Saat ini, kami sedang me-redesign sistem kami, karena kami melihat ketidak-feasible-an sistem yang kami jalani dengan kondisi yang ada sekarang. Karena itu kami mencoba membagi menjadi dua kategori pengajar, yaitu, pengajar saja dan kategori yang kedua yaitu, pengajar sekaligus pengendali sistem yang telah ada di SKHOLE. Untuk menjadi pengajar saja, syaratnya sangat mudah, memiliki keinginan untuk berbagi mimpi dan passion. Untuk kategori yang kedua, dia mau belajar untuk mengkritisi implementasi sistem pendidikan Indonesia dengan bergabung dalam sistem kami sekaligus dia mau berbagi mimpi dan passion miliknya kepada orang lain.

Kategori kedua, kami menyebutnya Agent of Education. merekalah orang-orang yang nantinya meneruskan mimpi besar SKHOLE ini, menghasilkan suatu sistem yang ideal dan sustainable, orang-orang yang memiliki passion tentang pendidikan dan mau meluangkan lebih banyak lagi waktunya untuk mengkritisi, mengkaji, dan memberikan solusi mengenai implementasi metode sistem pendidikan yang ideal. semua orang yang ingin menjadi Agent of Education bisa langsung mendaftar melalui himpunannya masing-masing. fungsi Agent of Education ini, tidak hanya sebagai badan pengurus, tetapi dia jugalah nantinya yang menjadi perpanjangan tangan antara SKHOLE dengan himpunan, dan begitu pula sebaliknya. Agent of Education ini jugalah yang nanti yang menjadi koordinator untuk teman-teman himpunannya, yang ingin menjadi pengajar saja. dengan adanya Agent of Education ini, bentuk koordinasi, kerjasama, dan kolaborasi antara SKHOLE dengan himpunan, bisa berjalan dengan maksimal. teman-teman himpunan bisa belajar tentang sistem kami, dan kami pun juga bisa belajar tentang sistem forum kakak asuh atau rumah belajar yang dimiliki himpunan. diharapkan, cita-cita besar kami, yaitu SKHOLE sebagai sekolah besar dengan himpunan dan unit-unit sebagi kelas-kelas kami, bisa tercapai, 5 tahun ke depan.

SKHOLE terkendala...
mungkin, masih muda-nya umur SKHOLE, tidak bisa dijadikan alasan atas kegagalan SKHOLE satu tahun ini. tapi kenyataannya kami masih belajar, mungkin kalimat,'karena kampus ini merupakan tempat belajar' bisa dijadikan pembenaran atas kegagalan satu tahun ke belakang. bentuk kegagalan atau evaluasi yang ke depannya diharapkan bisa menjadi pembelajaran untuk kepengurusan selanjutnya, yaitu sistem pengolahan sumber daya pengajar yang masih belum baik, mungkin akibat terlalu banyak aktivitas yang dibebankan di pundak mahasiswa ITB saat ini, menjadi alasan sedikit sekali resource yang mampu bertahan sampai detik ini, kekonsistenan untuk tetap mengajar diharapkan ke depannya mampu di atasi.

harapan kami ke depannya!
SKHOLE yang sustainable dengan segala kemandirian sistem yang sudah ada, merupakan harapan terbesar kami, semoga walau 'hanya' sebagai salah satu program kerja Kementrian Pengabdian Masyrakat, tidak menjadi batasan, halangan, atau rintangan bagi kami untuk terus maju meraih tujuan besar kami yang tentunya juga untuk kebaikan-kebaikan adik-adik asuh kami, yang kelak suatu saat nanti merupakan generasi-generasi pemimpin bangsa ini.

sedikit cerita tentang SKHOLE yang saya rasakan hampir satu tahun kemarin. semoga 'bayi' ini terus tumbuh menjadi lebih kuat, cerdas, kritis, dan mampu membahagiakan orang-orang disekitarnya. masih banyak yang perlu dibenahi dari SKHOLE, dan kami tidak bisa sendirian. butuh lebih banyak kepala dan jiwa, yang mampu membawa arah gerak SKHOLE lebih baik ke depannya. semoga, setelah membaca ini, makin banyak orang yang tergugah untuk membantu pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, karena sudah merupakan janji kemerdekaan kita, bahwa kita harus mencerdaskan kehidupan bangsa (UUD 1945). amin.

semesta adalah sekolah, dan semua makhluk adalah guru.

untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater

salam hangat
Nayasari Aissa
(masih) Kepala Sekolah SKHOLE

Solar Dynamics Observatory


jadi ini adalah bahan presentasi dari mata kuliah Fisika Matahari. topiknya menarik yaitu tentang satelit dari NASA namanya Solar Dynamics Observatory atau disingkat SDO.

SDO sendiri dilaunching pada tanggal 11 Februari 2010, baru satu tahun. SDO memiliki misi mengamati ativitas matahari dan hasilnya yaitu berupa solar weather. sedikit penjelasan tentang solar weather, sebenernya ini bukan tentang cuaca matahari panas atau dingin seperti yang kita amati di bumi, tapi tentang medan magnet, solar wind, solar flare, dan macam-macam hasil dari aktivitas matahari di lapisan heliosphere, yaitu lapisan antara bumi dan matahari. SDO sendiri memiliki misi yang hampir sama dengan SOHO, tetapi dengan kemampuan yang jauh lebih hebat dibandingkan SOHO. SDO mampu menghisalkan citra setiap 10 sekon, selain itu SDO mampu mengetahui struktur permukaan dalam matahari. SDO sendiri memiliki lifetime sekitar 5 tahun 3 bulan, tetapi diharapkan tetap mampu bertahan dengan bahan bakar yang dipersiapkan hingga 10 tahun. SDO ini juga merupakan program pertama dari badan antariksa amerika (NASA) yaitu program Living With A Star.
SDO memiliki 3 instrumen yang dibawanya yaitu :
  • Atmospheric Imaging Assembly (AIA) yaitu 4 buah teleskop yang didesine untuk mengambil gambar permukaan dan atmosfer dengan 10 poanjang gelombang yang berbeda sehingga saat citra yang diambil akan berbeda warna pula.
  • kemudian ada Extreme Ultraviolet Variability Experiment atau disingkat EVE memiliki fungsi untuk mengetahui fluktuasi dalam keluaran sinar ultraviolet dalam tingkatan tinggi, sinar ultraviolet tingkat ekstrem (EUV) susah untuk diekspektasi sehingga mereka (peneliti) mengharapkan dapat menggunakan EVE untuk mengukurnya. dan yang terakhir adalah
  • Helioseismic and Magnetic Imager (HMI) yang fungsinya mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan medan magnet dari matahari yang nantinya akan mempengaruhi bumi.
tentang HMI, saya melakukan cukup banyak pendalaman di sini, karena ini bahan presentasi saya. Helioseismic inilah merupakan alat tercanggih di SDO karena mampu menerka isi permukaan matahari dengan menggunakan prinsip seismik yang dilakukan oleh ahli geologi di bumi, yaitu mengukur permukaan bumi, kemudian dari data yang di dapat data dapat dilaukan intepretasi sehingga bisa diketahui struktur bumi seperti, dan helioseismic ini memiliki prinsip yang sama. pada bagian heliosfer diambil data kemudian struktur kedalaman matahari dapat diketahui. kemudian fungsi dari HMI lainnya adalah, pada instrumen ini terdapat kamera yang dapat mengambil citra matahari dengan menggunakan medan magnet yang terdapat dimatahari, sehingga sunspot dapat diamati dengan jelas dan dengan diketahuinya sunspot peneliti dapat mengetahui aktivitas-aktivitas matahari lainnya, termasuk solar wind yang sering kali mempengaruhi bumi. melalui HMI ini pula, dapat dianalisis aurora yang merupakan hasil dari aktivitas solar wind yang bertumbukkan dengan medan magnet bumi.

sangat menarik bukan tentang SDO ini, ternyata NASA telah merancang alat yang luar biasa hebat yang dapat digunakan untuk mengetahui aktivitas matahari dan hasilnya yang dapat memepengaruhi aktivitas di bumi pula. jika ada kesalahan silahkan di koreksi, karena saya juga masih belajar. semoga bermanfaat :)

sumber bacaan : website NASA dan buku panduan tentang Solar Dynamics Observatory

tentang pendidikan Indonesia

beberapa hari yang lalu saya sempat mendapatkan sebuah pertanyaan tentang pendidikan yang ada di Indonesia dari guru bahasa Inggris saya. pertanyaannya adalah,' apa yang kamu ketahui tentang pendidikan Indonesia? dan apa yang kamu bayangkan 20 tahun lagi tentang pendidikan Indonesia?'

sebelum saya berkicau panjang lebar tentang pendidikan, mari kita telaah dulu tentang pendidikan itu sendiri. dari buku yang sedang saya baca karya Ki Hadjar Dewantara,
pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak
perlu ditegaskan bahwa pendidikan hanya memiliki hak untuk menuntun hidup seseorang anak, seharusnya tidak lebih, bahkan tidak boleh mendorong seorang anak menjadi sesuatu yang mereka tidak inginkan.

dari sini, saya dapat merasakan bahwa makna pendidikan sendiri telah bergeser dari arti harfiahnya. saat mendapatkan pendidikan kita bukan dituntun tapi di arahkan untuk menjadi sesuatu. saya tidak boleh ini, tidak boleh itu, saya salah, saya benar, semuanya diarahkan, hingga saya merasa menjadi seperti robot. inikah pendidikan yang seharusnya saya dapatkan? dari sini, saya mencoba menjawab pertanyaan dari guru bahasa inggris saya. yang saya ketahui tentang pendidikan Indonesia adalah, sistem pendidikan Indonesia membuat anak-anak Indonesia menjadi robot-robot, menjadi manusia tanpa hasrat, tak punya kemauan untuk melakukan yang dia inginkan. padahal nyatanya dalam UU Sisdiknas, sudah tertera pasal-pasal yang jika terimplementasikan dengan baik, kata seorang teman, Indonesia akan menjadi negara dengan sumber daya manusia terbaik. seperti bunyi pasal 3 UU Sisdiknas dibawah ini,

bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3)
pak Anies Baswedan-pun bernah berkata bahwa manusia terdidik, tercerahkan dan berintegritas adalah asset utama Republik Indonesia. masa depan dibangun dengan mencerdaskan manusianya. jika pendidikan Indonesia berhasil mendidik manusia-manusia Indonesia menjadi SDM yang berkualitas, Indonesia pasti mengalahkan Jepang. sayangnya sampai saat ini, permasalahan pendidikan Indonesia tidak sekedar di implementasinya UU Sisdiknas di dunia pendidikan, tapi juga penyebaran guru-guru yang berkualitas yang sadar tentang pendidikan yang baik itu seperti apa juga tidak merata.

pernah saya mendengar suatu kenyataan, ada seorang aktivis pendidikan, saya lupa siapa namanya, berbicara di pemutara Film Tan Malaka dalam pemikirannya tentang pendidikan, bahwa saat ini penyebaran guru-guru baik itu tidak sampai di seluruh Indonesia, akibatnya sekolah berlabel unggulan mendapatkan guru-guru dan fasilitas yang baik pula tentunya, sedangkan sekolah yang biasa-biasa saja akan mendapatkan guru-guru yang biasa saja, dan sekolah berlabel 'kurang' juga akan mendapatkan guru yang tidak sebaik guru di sekolah unggulannya. akibatnya, anak-anak yang mampu masuk sekolah unggulan dengan tingkat IQ yang tinggi akan mendapatkan pendidikan yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang hanya mampu bersekolah di tempat biasa.

harusnya pendidikan Indonesia bisa jadi solusi atas tantangan-tantangan di negara ini, pendidikan juga lah yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, pendidikan juga yang mengkader manusia-manusia Indonesia, sehingga memiliki karakter. sayangnya lagi, pendidikan, baik sistem maupun pelengkapnya masih belum berhasil membuat ini menjadi nyata. sekolah sebagai wadah penyampaian pendidikan, belum berhasil membuat pendidikan menjadi pendidikan sesungguhnya, sekolah membatasi ruang gerak-ruang gerak anak-anak Indonesia, membenarkan yang salah, dan menyalahkan yang benar, anak-anak tidak dibiarkan menggunakan imajinasinya.

tapi jangan lupa masalah pendidikan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah sebagai organisasi yang mengatur segalanya di negara ini, rakyat sebagai bagian dari negara ini juga memiliki porsi untuk membantu keberjalanan sistem pendidikan yang ideal, mulai dari keluarga, lebih dulu, lingkungan sekitar, baru porsi sekolah. bahkan pendidikan paling melekat kepada seseorang anak itu adalah pendidikan dalam keluarganya, baru kemudian sekolah dan lingkungannya. seperti kata Pak Anies (lagi), education starts from home. be a prepared parent. negara ini juga memiliki janji kemerdekaan tentang pendidikan yang tercantum pada
UUD 1945, yaitu salah satunya 'mencerdaskan kehidupan bangsa'.

maka mulai dari detik ini juga, marilah masing-masing dari diri kita menyadarkan bahwa kita memiliki peranan penting dari keberjalanan pendidikan di Indonesia, karena tiap-tiap dari kita memiliki tanggung jawab, minimal dari 'rumah' kita masing-masing, kemudian baru lingkungan sekitar.

terimakasih yang sudah membaca sedikit kicauan di kepala saya tentang pendidikan, tulisan ini dibuat untuk mengingkatkan tentang Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal setiap 2 Mei, mari kita renungkan kembalinya pentingnya pendidikan bagi negara dan besarnya jasa Ki Hadjar Dewantara (dan pahlawan-pahlawan lain seperti Tan Malaka, Butet Manurung, Anies Baswedan, dan guru-guru kita) yang telah berjuang keras untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan Indonesia. semoga pendidikan Indonesia ke depannya lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya, sehingga menghasilkan orang-orang terdidika yang mampu memimpin negara ini ke arah yang lebih baik. amin!

ayo kerjakan Tugas Akhir

your biggest enemy is yourself - Pak Budiono (direktur utama Gatra)
tadi pagi pas dateng ke workshop jurnalistiknya Gatra, gue mendengar kata ini. pak Budiono ditanya oleh salah satu peserta, siapa saingan Gatra sebagai majalah, dan Pak Budiono menjawab, diri kita sendiri.

gue sepakat banget sama kalimat ini, musuh terbesar gue adalah yah diri gue sendiri. kadang saat ingin melakukan sesuatu, gue terhalang sesuatu yang mengganjal, dan ternyata itu adalah diri gue sendiri. contoh kasus kayak yang gue lakukan sekarang, padahal tugas gue numpuk dan gue harus menyelesaikan Tugas Akhir, tapi gue sibuk nulis di blogger, harusnya daritadi kalo gue nugas pasti ada progres, meh, ayo naya kerjakan tugas!

jadi, mari kalahkan dirimu untuk kamu yang lebih baik lagi!

terimakasih Garuda

jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa jika memang mau berjuang - Abdul Muis
sudah satu bulan lebih saya habiskan waktu saya untuk sebuah tim, tim yang kita sebut Garuda, yang didapatkan saat lawan melempar koin dan mendapatkan angka, yang otomatis kita mendapatkan Garuda dan setelah itu juga Filman memberi nama kita, Garuda.

banyak hal yang saya dapatkan saya berada disini, termasuk keluarga baru. keluarga yang mengajarkan saya untuk mempertahankan ke-idealis-an, keluarga yang men-support satu sama lain, keluarga yang mengerti keadaan anggota keluarganya yang lain, keluarga yang mengajarkan bahwa A benar dan bahwa B salah.

saya juga belajar banyak hal termasuk bagaimana caranya menjadi negarawan yang baik dari berpolitik yang beretika pula. tak ingin saya jelaskan apa saja, tapi banyak hal yang saya sadari, butuh perjuangan yang untuk mempertahankan yang kita yakini benar, walau masih dalam tahap belajar, walau hasilnya tak sesuai dengan yang diharapkan.

memang kita kalah dalam pertempuran ini, tapi bagi saya kita telah menang, menang karena telah berusaha sekeras mungkin mewujudkan mimpi-mimpi kita dalam sebuah gagasan untuk ITB, untuk Indonesia. menang karena ada 2022 yang ternyata menaruh kepercayaannya di pundak masing-masing dari kita, menang karena sampai titik darah penghabisan terakhir berpegang teguh pada keyakinan yang kita bawa, menang karena telah berhasil memiliki satu visi dan misi yang sama, dan menang karena kita tidak kecewa kami kalah.

terimakasih Filman Ferdian, yang sudah mengajak saya untuk berbagi kesusahan dan kebahagiaan, terimakasih sudah mau mendengarkan keluhan, nasihat, dan amarah, kau tetap pilihan yang terbaik sampai detik ini.
terimakasih teman-teman Garuda, yang sudah mau menjadikan saya bagian dari diri kalian, terimakasih atas semangatnya yang membuat saya masih bertahan bersama kalian, terimakasih sudah mau menjaga keidealisan saya, terimakasih cinta dan kasih sayangnya sebagai sebuah keluarga, terimakasih atas 1 bulan yang sangat-sangat-sangat berharga ini :)

ini bukan tentang posisi, bukan pula obsesi kontribusi. ini semua tentang bagaimana berjuang dengan nurani - Aldi Ardian Rahardja


gue udah ngapain ajah yang di umur 22 ini?

kadang untuk melangkah ke depan perlu berkaca ke belakang, tentang apa saja yang telah gue kerjain, baik atau buruknya. tahun lalu, gue berjanji ke diri gue sendiri, i must be mature, my study will be greater, and i must be more religius than before. tapi setelah gue menengok-nengok lagi ke belakang rasanya doa ini tak terkabulkan, bukan, bukan Tuhan tak mengabulkan tapi gue yang tak melihat pintu yang dibuka Tuhan untuk mengabulkan doa gue.

kesempatan yang (insya Allah) dikasih Allah buat gue setahun ke depan, harusnya gue bisa memanfaatkan lebih baik lagi. janji ga boleh tinggal janji, janji harus ditepati sebisa gue, karena gue sudah berjanji. yang salah-salah setahun di belakang harus bisa dibenahi ke depannya dan gue harus jadi manusia yang lebih baik lagi, amin!

you only live once, but if you do it right, once is enough - mae west
tahun ini gue ingin memanfaatkan umur gue sebaik-baiknya, dan jadi manusia sebaik-baiknya pula, aamiin. inilah sederet doa yang semoga gue bisa jalani sebaik-baiknya dan bisa bermanfaat buat diri gue sendiri, maupun orang lain.
  • semoga kedewasaan tumbuh seiring dengan bertambahnya umur, ntah kenapa gue sering merasa childish sekali dikit-dikit pundung, dikit-dikit tersinggung, padahal ga segitu keselnya juga.
  • semoga gue makin cerdas dalam melihat yang benar dan salah, kadang-kadang karena terlalu menggunakan perasaan sering tidak bisa melihat batasan antara benar atau salahnya sesuatu.
  • semoga ibadahnya makin rajin dan tidak ditunda-tunda.
  • semoga bisa lulus tahun ini, walau tidak di wisuda tahun ini juga, hehehehe yang ini ambigu. semoga bisa bikin jurnal walau cuman skala nasional, yosh!
  • semoga bisa jadi mahasiswa yang sesuai dengan yang tertuliskan di tujuan pendidikan, bisa jadi kepala sekolah yang amanah dan barokah, ingin menyelipkan sedikit doa tentang SKHOLE juga, semoga SKHOLE bisa bermanfaat bagi bangsa walau kecil sekali manfaatnya. aamiin.
  • semoga sebelum lulus bisa dapet beasiswa ke UK atau Jepang, beasiswa Astrophysics, aamiin!
  • semoga segera bertemu dengan Tuan Ajaib *aamiin-nya paling kenceng yang ini*
  • pokoknya, semoga selalu bisa bermanfaat untuk Tuhan, Bangsa, dan Fisika.
semoga (semoga yang terakhir) doa-doa yang dipanjatkan di awal memasuki umur ini bisa terkabulkan, terlaksanakan, terjalankan dengan baik dan benar. mohon doa-nya yah bagi yang membaca ini, hehehe, semoga yang meng-aminkan juga mendapatkan kebaikan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, aamiin.


that's just 22, that doesn't matter

... if i don't do nothing, naya :)

Filman Ferdian | KM ITB untuk Indonesia


‎... dan di kampus inilah kita belajar ber-Indonesia. - Filman Ferdian | KM ITB untuk Indonesia :)

korupsi yang memiskinkan

baca Kompas edisi kemaren, 10 Maret 2011, membuat gue berkali-kali menghela nafas panjang, berfikir acak, mengumpat, bahkan kadang mata gue berkaca-kaca. ada bagian khusus dari koran kemaren yang membahas dan memaparkan berita-berita tentang kemiskinan berikut dengan fakta-faktanya. sebagai manusia, yang insya Allah masih mempunyai perasaan, ntah kenapa gue merasa terbebani sekali, benar-benar terbeban, serasa ada bawaan yang cukup berat di pundak gue. gue yang seharusnya menjadi agent of change, begitu yang diteriakkan berkali-kali di telinga gue saat baru pertama kali berstatus sebagai mahasiswa, benar-benar sedang tersadarkan bahwa, that's my responsibility to be a part of the solution in this problem.

korupsi dan implementasi yang tidak sesuai dengan sistem yang telah dicetak diatas kertaslah, yang membuat negara carut marut, kacau balau. korupsi, yang benar bahwa saat kita masih polos tidak ada anjuran untuk menjadi koruptor, tetapi mengapa banyak kasus-kasus korupsi yang terjadi di negara ini? ada sebuah opini yang gue baca di Kompas, yaitu tentang istilah jendela pecah. saat ada sebuah jendela pecah, dan banyak orang itu menganggap biasa saja dan tidak ada yang berusaha untuk membenahinya, maka jendela pecah akan tetap jendela pecah, dan sangat mungkin jendela-jendela pecah akan semakin banyak lagi. itulah yang terjadi atas kasus korupsi, masing-masing orang berebut untuk menjadi koruptor karena di dalam lingkungan yang sama, korupsi adalah hal biasa, yang sadar hal itu ada hanya bisa pasrah dan terdiam.

bagi gue, korupsi juga bukan hanya memiskinkan harta negara ini, tetapi juga memiskinkan dan mematikan hati nurani sebagian rakyat Indonesia. korupsi memiskin perasaan-perasaan manusia terhadap manusia lainnya. yah, salah lu ga mau korupsi makanya lu miskin. yah salah lu, ga liat kesempatan, harusnya jadi koruptor dong kayak gue biar hidup enak. mungkin itu yang dilihat gayus, banyak banget kesempatan yang bisa dia dapatkan untuk menjadi koruptor. bahkan ga cuman itu, korupsi mematikan perasaan juga untuk membiarkan oranglain terjerumus akibat kesalahan si koruptor tersebut.

sistem yang sudah sangat ideal telah dibuat juga ternyata tidak terimplementasikan dengan baik, liat KPK, berapa banyak orang-orang yang sudah ditangkap dan diadili oleh mereka, tetapi hukum yang telah jelas-jelas dibuat malah diperjualbelikan seperti kacang rebus, murah! waktu tahanan tidak sebanding dengan nyawa-nyawa yang secara tidak langsung melayang akibat kemiskinan yang dihasilkan oleh koruptor-koruptor itu. fasilitas penjara yang maha megah, sangat berkebalikan dengan kehidupan mereka yang memungut sampah dan makan aking setiap harinya. dan uang-uang hasil korupsi masih bisa dinikmati sampai turunan ketujuh kelak.

saya mahasiswa, siswa dengan kelebihan kata maha didepan, sampai saat ini masih belum bisa melakukan hal yang baik minimal untuk mengurangi kasus korupsi. gue lebih sering terlena dengan kehidupan-kehidupan nyaman yang gue punya, kuliah dengan banyak fasilitas menunjang, hidup senang-senang, jauh dari masalah dan sering tampak tidak peka dengan lingkungan. gue sering banget memikirkan minimal ada hal yang ga gue korupsi dari apa yang gue kerjakan. sampai saat ini, gue masih mengajarkan diri gue untuk sadar atas masalah korupsi, dan membangun karakter diri gue sendiri agar tidak terjerumus dalam korupsi-korupsi kecil yang sering banget gue dan teman-teman gue sepelekan. gue mencoba untuk ga korupsi waktu saat janjian dengan orang lain atau saat kuliah, gue mencoba ga korupsi nilai dengan berkerja sama saat ujian. mencontek bagi gue saat ini adalah hal yang paling simple yang mengajarkan kita bahwa korupsi itu benar. korupsi adalah hal yang paling gampang dan sering kali disepelekan banyak pihak. padahal banyak hal-hal kecil yang sering disepelekan yang sebenernya hal-hal kecil itulah yang nantinya membangung gue untuk menjadi seorang koruptor, yang nantinya lagi gue akan sama saja dengan orang-orang yang umpat saat ini.

ketidakpedulian dan menyepelekan menjadi sumber hal yang paling sederhana yang akan membangun manusia menjadi seorang koruptor. peduli dengan melihat-melihat sekitar menyadarkan bahwa korupsi bukanlah pilihan untuk menyenangkan diri, menyepelekan hal-hal kecil yang akhirnya menjadi besar juga seharusnya mulai diminimalkan. mari membangun dan membenahi negera ini dengan hal-hal kecil yang baik, mari mulai membangun dan membenahi negara ini dari sendiri.

stop mencontek mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, untuk karakter calon pemimpin masa depan Indonesia yang lebih baik lagi, amin!

biarkan Indonesia benar-benar Mengajar

Jumat kemarin, saya datang ke Roadshow Indonesia Mengajar, sebenernya saya sudah cukup tahu banyak tentang ini, bahkan sudah lumayan banyak ngobrol dengan orang dari Indonesia Mengajar-nya. Tapi ternyata saat duduk mendengarkan Pak Anies bercerita tentang perkembangan pendidikan Indonesia dari tahun ke tahun sejak kemerdekaan bangsa Indonesia, saya jadi benar-benar terinpirasi sekali.


Saya baru tahu ternyata tahun 1950-an, ada yang namanya PTM (Pengiriman Tenaga Mahasiswa) ke daerah-daerah pelosok untuk dijadikan guru SMA, karena pada tahun itu guru-guru SMA sangat minim, sedangkan sekolah-sekolah menengah mulai dibangun oleh Pemerintah. Selama kurun waktu 1951-1952, PTM berhasil mengirimkan 1.487 mahasiswa untuk mengajar di 161 sekolah lanjutan tingkat atas di 97 daerah terpencil di luar Jawa. Dan yang lebih luar biasanya lagi, para mahasiswa ini sukarela, tanpa uang imbalan atas kebaikan mereka. Berkat mereka, pada tahun 1960-an, mulai banyak lulusan SMA dari daerah-daerah pelosok yang berdatangan untuk mengenyam pendidikan perguruan Tinggi.


PTM-lah yang meninspirasi Pak Anies Baswedan untuk membuat Gerakan Indonesia Mengajar. Dari penjelasan Pak Anies, mengapa disebut gerakan, karena niat awalnya memang ingin menggerakkan seluruh rakyat Indonesia agar peduli dengan pendidikan, agar berkontribusi kepada pendidikan.


Sesuai dengan janji kemerdekaan rakyat Indonesia, yang tertulis pada UUD 1945,


mencerdaskan kehidupan bangsa


Hari ini, saya terharu, saat diundang untuk melihat Kakak Asuh FISIP UNPAR. Mereka mengadakan lomba cerdas cermat, ada sekitar 30 mahasiswa yang berpartisipasi di acara tersebut, dan mereka semua bahagia melakasanakan acara tersebut. Kegiatan mereka ini sustainable, melakukan kegiatan belajar mengajar setiap sabtu, untuk membantu pendidikan formal adik-adik kelas 6 SD agar bisa lulus UAN, karena adik-adik tersebut berasal bukan dari sekolah unggulan.


Pada forum silaturahmi yang diadakan oleh SKHOLE beberapa waktu yang lalu, saya juga sungguh senang dapat melihat banyak himpunan berlomba-lomba untuk mengadakan forum kakak asuh, ada yang membantu pendidikan formal, ada juga yang membantu pendidikan dengan background keprofesian mereka, bahkan ada yang baru ingin memulai karena terinspirasi dari teman-teman lembaga lainnya.


biarkan Indonesia benar-benar Mengajar


Biarkan gerakan ini, terus berlanjut. Saya memang bukan siapa-siapa, bukan menteri pendidikan, bahkan presiden Indonesia, tapi melihat teman-teman mahasiswa bergerak dengan sigap, berusaha membantu apa yang mereka bisa kerjakan, mulai dari hal kecil, mulai dari sendiri, hingga suatu saat nanti bisa menjadi hal-hal yang besar, hal itu sungguh membanggakan dan membahagiakan bagi saya. Insya Allah, ini adalah suatu kolaborasi yang secara tidak sengaja yang akan menjadi indah untuk Indonesia suatu saat nanti, amin.


Kalau Bung Soekarno masih ada saat ini, tentu Beliau akan bangga, bukan hanya SEPULUH pemuda Indonesia yang dia butuhkan untuk mengubah dunia, tapi saat ini, sudah ada ratusan bahkan ribuan pemuda Indonesia, yang siap mengubah dunia, suatu saat nanti, amin.


because, the foundation of every state is education of its youth - Diogenes Libertiesbecause

top