ekono-fisika

Saat saya memutuskan untuk pindah jurusan dari 'Physics Science' ke 'Economic Science', tiap ada yang mengobrol dengan saya pasti nanya, loh kok bisa? Kadang saya cuman bales senyum kalo lagi males ngejelasin panjang lebar, haha.

Setelah lulus dari Fisika, sebenarnya saya sudah langsung melanjutkan tugas akhir saya di jurusan Fisika, sebagai bahan awal topik tesis. Tapi mendadak nafsu saya sama ilmu Fisika menjadi menurun, mungkin karena jenuh. Efek baru lulus tapi ga dikasih waktu bernafas, karena saya harus langsung mulai lagi dengan berbagai jurnal dan tiap minggu langsung lapor progress. Kalo dipikir-pikir kalo tekad saya bulat buat jadi researcher, sebenarnya itu bukan jadi beban. Karena stress, saya ngobrol panjang lebar sama dosen pembimbing saya waktu itu, tentang niat saya kepengen buat pindah jurusan, waktu itu saya mau lanjut ke Magister Bisnis Administrasi di kampus yang sama, tapi setelah dipikir-pikir saya kayaknya ga cocok jadi entrepeneur, saya juga ngbayangin hidup saya kayaknya bakalan habis di kantor. Akhirnya saya mikir-mikir ulang buat ke mana.

Waktu itu kebetulan saya lagi baca banyak buku-buku Bung Hatta, kemudian akhirnya memutuskan untuk nyoba kuliah di jurusan sosial, Ilmu Ekonomi. Waktu itu saya mikirnya, pasti seru banget karena kerjaan saya pasti baca-baca doang bukan nurunin rumus apalagi sampai modelling kayak kerjaan saya dulu di Fisika. Alasan lainnya adalah saya ng-fans berat sama Bu Sri Mulyani yang keceh badai itu. Akhirnya saya pilih Ilmu Ekonomi sebagai salah satu rumah dalam perjalanan hidup saya, hahaha.

Lucunya, waktu matrikulasi (yang khusus diadakan pagi mahasiswa-non-ekonomi seperti saya) pelajaran yang diberikan adalah matematika-ekonomi. What a lucky, itu mirip persis sama mata kuliah kalkulus dasar dan fisika-matematika, karena sama-sama berlandaskan ilmu matematika. Saya ga nyangka ternyata di Ekonomi ketemu lagi sama makhluk menggemaskan bernama matematika.

'Dibesarkan' dengan cara berfikir yang 'luas' di Fisika, sebenarnya ilmu-ilmu ini berhubungan. Walau sempat ngos-ngosan buat adaptasi sama mata kuliahnya, sebenarnya kuliah di Ilmu Ekonomi tidak jauh berbeda dengan kuliah di jurusan Fisika, yah namanya sama-sama belajar tentang bagaimana mengamati 'alam'. Yang lebih bikin kaget lagi, sewaktu saya mengambil mata kuliah berjudul Ekonomi Regional, ada dua persamaan yang saya ga asing di Fisika, yaitu gaya sentripetal-sentrifugal dan gaya gravitasi. Gaya-gaya tersebut digunakan untuk membahas fenomena ekonomi.

Tesis saya berhubungan dengan energi. Lebih lucunya lagi, saya diberi tema geothermal atau panas bumi oleh dosen pembimbing saya, di mana ini dulu sempat saya pelajari di Fisika (dan dosen pembimbing saya di fisika adalah seorang geophysicist yang fokus di ilmu panas bumi), what a coincidence! Walau saya memang lebih fokus di masalah ekonominya, tapi tetap saya akhirnya saya harus diskusi dengan teman-teman dari kampus lama buat nyari tahu banyak hal tentang energi panas bumi.

Dua tahun kebelakang ini bener-bener jadi hal yang menyenangkan buat saya selama kuliah di Ekonomi. Selain bener-bener menambah wawasan, -mungkin karena dasar ilmu sosial- saya jadi ngeliat ilmu yang lebih aplikatif buat hidup. Ngeliat harga cabe naek, saya manggut-manggut. Liat economic's growth turun, manggut-manggut lagi -sok ngerti alesan dibalik itu, haha. Bener-bener ga abstrak kayak Fisika, walau hubungan antar ilmu itu kerasa bangeeeeeeeeeet.

Satu hal yang saya bikin saya sadar selama kuliah ekonomi adalah, baik ilmu sosial maupun ilmu sains itu syulit. Makanya saya makin ga ngerti kenapa muncul trademark kalo lo masuk IPS artinya lo itu ga pinter-pinter amat lah -karena ga keterima di IPA-. Serius kuliah di Ekonomi bikin saya makin sadar kalo semua ilmu it butuh dipahami, ga cuman dihafal doang. Karena semua ilmu itu, baik ilmu sosial maupun ilmu sains itu butuh kerja banget buat belajarnya dan setiap ilmu itu punya hubungannya tersendiri antar ilmu. Kalo dipikir-pikir, pantes rata-rata orang jaman dulu pasti ga cuman menguasai satu ilmu doang, like my favorite scientist ever, Einstein, yang jago di banyak bidang.

Setahun

Kalo diingat-ingat lucu juga, waktu saya pindah dari Bandung ke Depok, teman-teman saya berpesan nanti kalau sesampai di Depok, jangan berhenti untuk tetap berada di dunia pendidikan, kalau bisa bikin tetap bikin sekolah sendiri, ‘sayang ilmunya…’ kata mereka beramai-ramai. Tapi apa daya, beda suasana dan juga merasa beda pergaulan, sesampai di Depok saya cuman pengen rajin kuliah, lulus dan kerja dengan baik. Organisasi itu -bagi saya waktu itu- cuman masa indah pada waktu kuliah sarjana. Siapa sangka, manusia berencana, Tuhan juga yang menentukan. Sesampai di Depok, saya berkenalan dengan seorang abang bernama Akhyar, yang mengetahui saya memiliki khasrat di dunia pendidikan, kemudian dia mengenalkan saya kepada teman yang juga memiliki khasrat yang sama, namanya Tery.

Singkat cerita, ngobrol ngalur ngidul, pada hari pertama saya berkenalan dengan Tery kami memutuskan untuk membuat semacam tempat belajar untuk anak-anak di sekitar rumah Tery yang tepatnya berada di Kapuk, kami memilih untuk fokus di pendidikan anak usia dini serta taman baca -kebetulan Tery dan Bang Akhyar merupakan anggota Langit Sastra, komunitas yang berkegiatan di dunia sastra-. Dua bulan kami bertiga melakukan persiapan yang singkat dan padat, mulai dari berinteraksi dengan ketua RT, berkenalan dengan ibu-ibu setempat, menyiapkan materi, visi-misi sekolah, dan tidak ketinggalan mencari calon pengajar tempat sekolah kami. Kenapa kami memilih pendidikan anak usia dini?

Sebenarnya hal yang pertama kami sepakati tentang ini adalah karena di lingkungan rumah Tery banyak sekali anak-anak berusia 1-6 tahun. Banyak sekali. Dengan melakukan studi tentang kebutuhan para orangtua di Kapuk, kami meyakini bahwa dengan minimnya tempat belajar bagi-bagi anak usia dini, sekolah kami bisa menjadi angin segar di lingkungan tersebut. Sekolah kami, kami beri nama Sekolah Bermain Matahari. Mirip-mirip dengan saudaranya di Bandung, yang selama setahun sebelumnya sempat saya berkegiatan di sana, namanya Sekolah Bermain Balon Hijau.

Selain karena studi tentang kebutuhan masyarakat di daerah Kapuk. Kami juga melihat masalah pendidikan secara general, di mana saya melihat ternyata kebutuhan akan pendidikan untuk anak usia dini di Indonesia sangat 'urgent'. Di mana, anak-anak usia 0-6 tahun, atau disebut masa golden age, harus dididik dengan tepat, agar mampu menjadikan manusia yang berkarakter di masa depan. Dengan latar belakang pendidikan Tery dan Bang Akhyar yang merupakan mahasiswa psikologi, saya melihat Sekolah Bermain Matahari ini bisa menjadi laboratorium mini untuk melihat model pendidikan anak usia dini yang baik itu seperti apa. Yang kami harapkan outputnya kelak adalah model manusia yang berkarakter baik yaitu yang berakhlak baik, cerdas, dan peka terhadap lingkungannya, -yaitu sebaik-baiknya manusia-.

Antusias yang baik sekali waktu kami pertama kali mengadakan open recruitment untuk pengajar, belum lagi latar belakang pengajar yang benar-benar beragam dimulai dari psikologi, kesehatan masyarakat, keperawatan, ekonomi, farmasi, bahkan informatika dan arsitektur.

Sekolah Bermain Matahari menjadi benar-benar menyenangkan.

Kami bisa meracik ilmu hingga metode yang tepat untuk anak-anak didik kami secara bersama-sama dengan beragam kelimuan, teman-teman kami -pada akhirnya- bisa mengaplikasikan keilmuannya secara nyata pada sekolah kami.

Belum lagi, selain sibuk dengan pendidikan anak usia dini, perhatian kami terhadap ibu-ibunya juga sama besarnya. Bagaimana tidak, anak-anak didik kami menghabiskan waktu yang lebih banyak bersama ibunya dibandingkan kami. Agar mereka bisa mendidik anaknya dengan baik, kami juga harus mengedukasi ibu-ibu kami terkait banyak hal urusan tentang rumah tangga. Karena kami bukan ahlinya -apalagi kami banyak yang belum menikah-, kami tentu mengundang pakar-pakarnya seperti dosen-dosen Universitas Indonesia dan beberapa pembicara yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi. Mulai dari psikologi anak, makanan sehat, obat herbal, sampai masalah keuangan dalam rumah tangga coba kami bantu berikan. Walau hasilnya, memang belum terasa, tapi kami benar-benar melihat antusias yang luar biasa dari orangtua anak didik kami.

Lebih dari setahun sekolah kami ada, melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan terimakasih untuk semua yang telah berpartisipasi untuk keberjalanan sekolah kami -kita-. Saat ini kami mungkin memang tidak menawarkan masa depan yang baik untuk mereka, tapi yang pasti kami semua memiliki cinta agar sekolah ini tetap ada untuk membenahi pendidikan di negara ini bersama-sama.

Hormat saya,

Nayasari Aissa

Kepala Sekolah Bermain Matahari 2012-2014

Mobil Murah (tidak) Untuk Semua

Kepada Pak Susilo Bambang Yudhoyono, yang masih saya hormati.

Sebenarnya saya tahu, mungkin sia-sia saya menuliskan keluhan saya ini apalagi hanya di laman pribadi milik saya, dan saya pun tahu bapak terlalu sibuk dengan segala kegiatan bapak hingga tidak mungkin sempat membacanya. Tapi ini mungkin salah satu cara yang bisa saya lakukan untuk menyampaikan 'keluhan' saya.

Saya adalah satu dari sekian juta rakyat Indonesia yang sering menggunakan kendaraan umum, saya sendiri tidak mempunyai kendaraan pribadi dan saya memang belum mampu untuk membelinya.

Beberapa minggu belakangan ini, saya mendengar kabar baik dari wakil presiden Anda, Pak Budiono, tentang mobil murah. Tapi sayangnya berita ini tidak membuat saya menjadi berbinar-binar dan bahagia. Karena saya tahu, pasar mobil murah itu bukan untuk saya (sekalipun konon katanya uang pangkal dan cicilan perbulannya sangat terjangkau).

Sayapun sempat membaca salah satu wawancara dengan mentri Anda di media online yang mengatakan, bahwa 'diadakannya' penjualan besar-besaran mobil murah ini agar semua lapisan masyarakat bisa menikmati naik mobil, termasuk orang-orang yang berada di Papua.

Pak, kebetulan saya belajar di jurusan ekonomi, salah satu matakuliah saya berjudul Ekonomi Regional, dosen saya pernah menjelaskan bahwa salah satu permasalahan Indonesia terbesar saat ini menyangkut hubungan antara regional adalah masalah infrastruktur di tiap provinsi seperti pembangunan jalan yang masih seringkali terbengkalai. Saya sendiri berasal dari Sumatera Selatan, dan pernah beberapa kali menggunakan jalan-jalan untuk ke berbagai kampung di Sumsel. Sungguh begitu memprihatinkannya keadaan jalanan tersebut. Saya jadi berfikir keras, bagaimana mungkin rakyat-rakyat di daerah mampu atau ingin membeli mobil sekalipun murah jika jalanan untuk menuju tempat tinggalnya saja masih tidak terfasilitasi.

Menurut saya, masalah di atas ini, tentu akan melahirkan masalah baru, yaitu, lalu untuk siapa kabar gembira tentang mobil murah ini? Bisa jadi jawabannya adalah, warga-warga di kota-kota besar dengan jalur transportasi darat yang sudah baik pula. Saya makin menjadi pusing memikirkannya Pak, seperti yang sudah kita ketahui bahwa hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia, mengalami kemacetan yang parah, termasuk Jakarta-kan, Pak? Saya tidak bisa membayangkan jika ternyata yang membeli sebagian besar mobil-mobil murah ini berasal dari kota-kota besar tersebut (apalagi target perusahaan sebesar 3000unit/bulan untuk satu merk mobil).

Belum lagi definisi 'mobil murah' ini begitu absurd, untuk harga paling 'murah' saja dipatok sebesar 70jutaan, untuk warga Indonesia kelas menengah ke bawah dengan pendapat di bawah UMR, tentu sulit membayangkan mereka mampu membawa mobil ini pulang ke rumah mereka.

Sungguh saya sedang tidak iri dengan kemampuan rakyat Indonesia untuk membeli mobil murah ini. Saya malah berbahagia artinya pertumbuhan ekonomi negara kita bisa jadi akan terus membaik (semoga). Apalagi jika ternyata, pembuatan suku cadang atau bahkan pembuatan mobil itu sendiri diproduksi di negara kita hingga bisa dieskpor ke banyak negara.

Tapi Pak, yang ingin saya tekankan bahwa tidak melihat urgensi kebutuhan transportasi murah ini. Sebagai penggunakan transportasi publik, saya melihat rakyat Indonesia lebih butuh transportasi publik yang murah dan nyaman. Ditambah lagi makin lama, keadaan transportasi publik makin tidak manusiawi, kadang-kadang sampai kelebihan kapasitas muatan. Mungkin Bapak harus mencoba untuk menggunakan transportasi publik secara sembunyi-sembunyi agar Bapak merasakan apa yang rakyat kecil benar-benar rasakan. Dari riset kecil-kecilan yang pernah saya lakukan bahwa alasan masih banyaknya orang-orang Indonesia menggunakan kendaraan pribadi adalah karena tidak tersedianya angkutan umum yang nyaman bagi mereka.

Bayangkan, Pak! Jika sebagian besar orang Indonesia menggunakan transportasi publik, berapa banyak bahan bakar yang mampu kita hemat, dan berapa besar pula kontribusi kita dalam mengurangi emisi gas rumah kaca bagi lapisan ozon, apalagi Indonesia saat ini adalah penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia. Semoga ini bisa menjadi pertimbangan bagi kebijakan yang diambil oleh mentri-mentri di kabinet Anda.

Akhir kata dari tulisan saya yang panjang dan lebih banyak mengeluhnya ketimbang memberikan solusi, saya hanya ingin mengungkapkan satu hal saja. Sudah lebih dari delapan tahun Bapak menjadi presiden bagi rakyat Indonesia dan sebentar lagi masa bapak akan segera berakhir, berikanlah saya -kami- kesan yang mendalam bahwa kami pernah memiliki pemimpin yang bijaksana seperti Anda.

Sekian dan terimakasih.

Nayasari Aissa

Pengguna Transportasi Publik

Anak-Anakmu

Bagi saya, anak adalah tanggung jawab yang begitu besar. Bahkan saya lebih ‘sibuk’ memikirkan keputusan untuk memiliki anak, ketimbang menikahi bapaknya. Sejak beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali saya membaca tulisan Tetsuko Kuroyanagi tentang perjalanan beliau mengelilingi dunia untuk bertemu anak-anak dari setiap negara serta pengalaman saya mengunjungi salah satu panti asuhan di sudut kota Bandung, saya benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan tentang nasib masa depan anak saya kelak. Semoga Tuhan selalu bersama saya saat membesarkannya, aamiin.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton salah satu film dokumenter yang menceritakan kasus bullying atau perundungan yang terjadi di sekolah-sekolah Amerika. Film ini menunjukkan liputan mereka secara diam-diam atas kasus-kasus perundungan yang terjadi beberapa sekolah, bahkan pada beberapa kasus, ada anak-anak yang memutuskan untuk bunuh diri karena tidak tahan menjadi korban perundungan. Mengerikan. Saya tidak mampu membayangkan bagaimana perasaan orangtua korban perundungan. Menangis pun, anaknya tak kan pernah hidup lagi. Tapi ada hal yang lebih menakuti bagi saya. Bagaimana jika ternyata pelaku perundungan tersebut. Mungkin hidup saya akan tidak sama tenangnya dengan hidup orangtua korban. Saya mungkin akan menyesal seumur hidup karena tak mampu mendidik anak yang lahir dari rahim saya dengan baik, tak mampu membawa dia menjadi orang yang mengasihi orang lain.

Dan kemarin, lini masa saya dihebohkan sebuah berita tentang seorang anak lelaki yang berumur 13 tahun yang membawa mobil dan menyebabkan tabrakan hingga 6 orang meninggal. Hal pertama yang terlintas di kepala saya adalah sebuah kesedihan. Saya tidak bisa membayangkan apa yang dia alami dari umurnya 0 tahun hingga menginjak 13 tahun. Pendidikan macam apa yang diberikan orangtuanya, hingga mengizinkan anak berumur 13 tahun mengendarai mobil, sendirian, dan pada waktu tengah malam pula. Walaupun dia adalah tersangka yang menyebabkan 6 orang meninggal, tetapi bagi saya dia juga adalah korban. Korban akibat pendidikan yang gagal yang diberikan orangtuanya kepada saya. Korban akibat orangtuanya tak tahu apa yang baik bagi anak itu.

Saya makin merasa ngilu.

Saya selalu mengingat-ingat sebuah tulisan Ki Hadjar Dewantara, bahwa (ringkasnya) anak-anak itu -bahkan pada saat di rahim- sudah memiliki sifat baik dan buruk. Mereka bagaikan sebuah buku yang sudah penuh tulisan baik dan tulisan buruk. Tapi pada saat mereka terlahir, pendidikan -tidak hanya di sekolah- di linkungannya lah yang akan menguatkan salah satu sifat tersebut. Karena hakikatnya setiap manusia pasti memiliki sifat baik dan buruk, hanya pendidikanlah yang akan membuat menonjol salah satu sifat tersebut.

Memiliki anak adalah sebuah pilihan. Tetapi dia (anak tersebut) sebenarnya juga memiliki hak, yaitu mendapatkan pendidikan yang sebaik-baiknya jika dia dilahirkan di dunia ini. Pendidikan yang bisa menjadikan dia manusia yang sesuai dengan norma-norma kehidupan. Mereka bukanlah sekedar makhluk lucu yang membahagiakan kita, tapi mereka bernyawa, hidup, dan juga membutuhkan penghidupan yang mampu memanusiakan mereka. Maka sebelum memutuskan untuk memilikinya, pikirlah baik-baik apa saja yang terbaik bagi mereka -bukan hanya menurut kita-.

Karena seperti kata Khalil Gibran, ‘Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu. Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan.’

Kukang dan Teman-temannya di Indonesia

Beberapa waktu belakangan ini, saya jadi lebih sering menghabiskan waktu untuk menonton BBC Knowledge ketimbang saluran televisi yang lain. Mungkin, saya merasa lebih banyak belajar dari menonton program-program yang dimiliki saluran televisi ini. Tulisan saya kali ini bukan ingin membahas isi program secara spesifik, tapi lebih ke insight apa yang saya dapatkan setelah menonton itu.

Sekitar dua atau seminggu yang lalu, BBC Knowledge, berturut-turut menayangkan perjalanan reporter programnya untuk melakukan perjalanan ke Indonesia. Dua program yang berbeda, tapi sama-sama menceritakan tentang keadaan fauna di Indonesia. Awalnya, ada rasa bangga tersendiri mengetahui bahwa Indonesia diliput oleh program televisi standar internasional, tapi ternyata kenyataannya diakhir acara, saya malah berurai air mata.

----

Pada program pertama yang saya tonton, seorang reporter televisi yang melakukan perjalanan khusus meliput kukang. kukang adalah primata pemakan semut yang hampir mirip seperti monyet tapi dengan struktur muka yang lebih lucu. Inti perjalanan itu sendiri adalah, melihat tempat penangkaran satwa kecil. Karena ternyata kukang banyak diburu di Indonesia, habitatnya mulai makin menyempit, dan kukang sendiri terancam punah.

Ada satu bagian yang ikut membuat saya berurai air mata, di mana si reporter ini menyusuri pasar hewan di pusat kota Jakarta. Dia (reporter) mencoba melakukan investigasi tentang penjualan Kukang secara ilegal, alhasil dia menemukan 4 ekor kukang yang dijual seharga 500ribu-an rupiah. Kukang-kukang tersebut ternyata juga banyak yang diselundupkan ke luar negeri untuk dijual sebagai hewan peliharaan. Ketika pulang dari pasar hewan tersebut, reporter tersebut menangis tersedu-sedu, karena dia merasa tidak bisa menyelamatkan kukang-kukang malang yang berada di dalam kandang sempit dan tidak diperlakukan dengan baik.

Mirisnya adalah, di pasar hewan itu banyak polisi yang sedang berpatroli, ntah mereka tidak tahu perdagangan kukang itu ilegal karena kukang adalah hewan yang terancam punah, atau mereka pura-pura lupa untuk menegakan keadilan. Reporter itu sangat menyesali kenapa pemerintah Indonesia tidak tegas terhadap penjualan satwa langka, padahal itu jelas-jelas terjadi.
---
Program ke dua yang saya tonton lebih mengerikan lagi. Reporter televisi ini tidak hanya meliput tentang kehidupan kukang, tapi juga hewan-hewan yang dibunuh dan ditangkap serta diperjualbelikan secara ilegal di Indonesia.

BBC Knowledge menyatakan, bahwa Indonesia adalah eksportir sirip hiu terbesar di dunia, yang juga adalah pembunuh hiu nomor satu di dunia. Padahal, pembunuhan hiu secara besar-besaran ini sendiri, sudah dilarang secara internasional, karena memang mengganggu ekosistem lautan itu sendiri. Kemudian, dia beralih pada berita pembunuhan gajah-gajah di sumatera untuk mendapatkan gading.

Dan liputan itu berakhir di pasar hewan yang sama, yaitu di pusat kota Jakarta (seperti yang saya ceritakan di atas). Di bagian ini, dia menunjukkan kukang-kukang yang dicabut giginya yang ternyata dibuat oleh penjual hewan agar kukang-kukang itu tidak berbahaya lagi. Dan yang lebih mengejutkan, banyak sekali peminat pembeli kukang untuk dijadikan peliharaan, kebanyakan mereka yang membeli adalah warga kelas menengah ke atas Jakarta. Selain kukang, di pasar itu juga banyak sekali hewan-hewan langka lainnya termasuk monyet dan ular langka. Tidak jarang (menurut penjual hewannya) bahkan harimau yang juga dijual di pasar tersebut, sesuai dengan permintaan pasar yang ada, jelasnya.

---

Dan hari ini, saya menonton kembali sebuah liputan penelitian yang dilakukan kerjasama oleh pemerintah Bhutan dan sekelompok biologists, untuk mendata hewan-hewan apa saja yang ada di hutan pegunungan di Bhutan (saya lupa apa nama daerahnya). Di liputan tersebut, saya bisa melihat sendiri, bagaimana hutan itu benar-benar masih alami, dalam artian tidak ada deforestasi berarti. Di sana keanekaragaman hewan serta tumbuhannya masih baik. Dan program itu di akhiri dengan suatu pernyataan dari biologist yang melakukan penelitian di sana, 'karena masyarakat Bhutan adalah penganut Budha, tidak ada hutan yang lebih aman selain di Bhutan bagi hewan-hewan langka.'

---

Setelah menonton tiga program televisi yang berbeda tersebut, saya jadi memikirkan banyak hal. Sebegitu gagalkah pendidikan di negara kita hingga bisa melahirkan banyak sekali orang-orang yang tidak memiliki hati nurani hanya demi kepuasan nafsu pribadi, dimulai dari penangkap, penjual, pembeli hingga pemerintah yang terlihat anteng-anteng saja dengan makin menurunnya jumlah populasi hewan-hewan langka di hutan-hutan Indonesia (belum lagi deforestasi hutan Indonesia yang sangat parah).

Pusing saya jadi berkelanjutan, karena menyadari bahwa Indonesia ternyata memiliki umat Islam terbesar di dunia. Padahal Islam adalah rahmatan lil 'alamin, yang artinya (koreksi saya jika saya salah) rahmat bagi semua. Dan manusia sendiri dalam Islam adalah khalifah, yang artinya pemimpin. Saya rasa seorang pemimpin harus bersikap adil kepada siapapun, termasuk kepada hewan sekalipun. Benar kata Bang Akhyar, jangan-jangan Islam memang tidak cocok untuk negara seperti Indonesia. Maksudnya apa, yah coba pikir sendiri.

Salam waras.

hayibrat

Tiga tahun yang lalu, saya mengikuti dan ikut berpartisipasi pada pemilihan calon ketua BEM di kampus saya. Saya di sana sebagai salah satu promotor calon ketua BEM. Di kampus saya itu, biasanya terdapat dua golongan, kami menyebutnya golongan depan dan golongan belakang. Saya sendiri tidak berada di golongan depan, tapi saya juga bukan berasal dari golongan belakang. Golongan depan ini identik dengan mahasiswa-mahasiswa yang biasa disebut 'aktivis dakwah kampus', sedangkan golongan belakang, biasanya adalah orang-orang selain golongan depan.

Sudah menjadi gosip umum di kampus saya, bahwa golongan depan ini pada setiap terjadinya pemilihan raya ketua BEM sudah mengantongi sekitar 2000 suara massa. Kebanyakan mereka adalah anggota suatu unit kampus yang mewadahi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan suatu agama, Islam.

Singkat cerita, tim politik saya berakhir dengan sad-ending, karena kami ternyata kalah pada pemilihan raya tahun tersebut, padahal kami sudah berjuang habis-habisan untuk menang, agar ide kami tentang kemahasiswaan bisa terealisasi dengan baik. Atas segala ke-simpang-siuran yang terjadi pada saat pemilu raya berlangsung, saya bertekad dalam hati saya, saya harus mencari tahu kenapa tim sebelah -yang berasal dari golongan depan- bisa menang dengan mutlak atas tim kami. Apa yang bisa membuat mereka memiliki loyalitas yang begitu besar dari kadernya?

Akhirnya, setelah pemira (akronim dari pemilu raya) berakhir, saya memutuskan untuk masuk ke dalam sistem sebelah, mungkin bisa dibilang pada saat itu saya adalah penyusup. Tapi saya tidak mewakili siapa-siapa, rasa penasaran sayalah yang mewakili saya untuk mencari tahu apa yang terjadi dalam atas sistem yang terbentuk begitu rapih yang memancing saya antusias saya. Tetapi, selain untuk mengetahui sistem pengkaderan yang ujungnya menghasilkan loyalitas dan kepatuhan anggota yang begitu baik, saya memang sudah lama ingin belajar agama di jalan yang (mungkin) benar.

Momennya waktu itu tepat sekali, mereka sedang mengadakan acara sekolah khusus perempuan, dengan bahasan tentang perempuan pula. Kebetulan, saya berteman baik dengan beberapa teman-teman yang berasal dari 'golongan depan', walau 'bermusuhan' dalam perpolitikan, honestly, mereka adalah teman-teman yang baik kepada saya.

Ketika saya bilang kepada mereka, bahwa saya ingin mempelajari agama, saya langsung ditanya mau mulai kapan. Bahkan saya langsung dikasih mentor yang kebetulan adalah teman saya sendiri. Seiringnya dengan berjalannya waktu, 'mentoring' sayapun naik tingkat, saya 'dikirim' ke ilmunya yang lebih banyak dari kakak mentor yang sebelumnya. Sampai pada saat saya harus pindah kampus yang berbeda kota, sayapun diperlakukan dengan baik, kakak mentor saya membantu saya mencari mentor yang baru, hingga saat saya pindah ke Depok, saya sudah mendapatkan Murobbi yang baru dan ilmunya juga sudah lebih baik dari yang sebelumnya. Saya sungguh menyukai dalam lingkaran ini, walau kadang saya sering mendapatkan 'doktrinasi' yang kadang sulit saya bisa mengerti.

Dari semua Murobbi ataupun kakak mentor yang membimbing saya, semakin tinggi ilmunya saya makin merasakan kesetiaan yang begitu mendalam atas sistem ini, sistem yang mereka sebut Tarbiyah. Loyalitas, kesetiaan, dan kepatuhan -yang menurut saya- sulit dimengerti bagi orang di luar sistem. Mungkin, karena basis agama yang digunakan dan nama Tuhan yang seringkali diperdengarkan, membuat saya sedikit memahami, betapa banyak orang yang akhirnya -bisa dibilang- 'terjerat' dengan kuat di dalam sistem ini.

'Sialnya', selama saya pindah kampus baru, saya malah berteman dengan teman-teman yang juga berada dalam sistem ini (dan hampir semua dari mereka berada dalam sistem ini bahkan sejak SMA), malah saya menikahi salah satu dari mereka. Atas segala diskusi-diskusi yang menghasilkan banyak informasi, saya akhirnya mengerti, kenapa dulu saya dan tim kalah. 'Brainwash' yang dilakukan hampir tiap minggu dalam bentuk 'halaqah' atau 'mentoring', tentu menjadi salah satu kunci kenapa kader-kader yang terbentuk dalam sistem tarbiyah ini bisa memiliki kesetiaan yang begitu baik. Kenapa saya bilang 'brainwash' dalam tanda kutip -karena literally- mereka tidak benar-benar dicuci otak sehingga tidak mampu menggunakan otaknya sendiri, tapi saya melihat seringkali terjadinya informasi satu arah dari pengkader (murabbi atau mentor).

Bagi saya, kadang loyalitas ini sendiri terlihat menyeramkan. Betapa sering saya merasakan, sempit/sedikitnya informasi dari luar sistem yang akhirnya bisa diterima oleh kader (mungkin karena terlalu banyak informasi yang disuapkan di dalam sistem itu sendiri). Dilihat dari betapa mudahnya orang-orang di dalam sistem ini seringkali 'menghakimi salah' suatu gagasan yang berbeda dari gagasan yang mereka terima dalam sistem. Sulitnya mereka untuk menerima informasi di luar karena mereka lebih memilih untuk skeptis lebih dulu ketimbang berusaha untuk lebih terbuka pikirannya dalam menerima informasi kemudian bisa berfikir kritis.

Atas tulisan ini, saya sebenarnya berfikir bahwa sistem pengkaderan ini sangat baik -seharusnya bisa dicontoh partai-partai yang ada di Indonesia-, karena orang-orang yang di dalam sistem ini pun banyak yang berasal dari perguruan tinggi terkemuka (yang artinya mereka memiliki latar belakang pendidikan yang cukup baik). Hanya saja, dengan ketatnya alur informasi yang bisa/mampu diterima para kader, saya hanya menyayangkan pada akhirnya saya hanya melihat kebanyakan kader-kader tersebut tidak lagi seperti manusia sesungguhnya -yang seharusnya mampu mengkritisi banyak hal serta tidak menelan mentah-mentah segala ilmu secara satu arah. Saya, akhirnya, kadang melihat para kader ini tidak bedanya dengan robot-robot yang diciptakan dari pendidikan yang tidak memanusiakan.

Perempuan Terdidik

Memilih topik proposal tesis tentang ketimpangan gender yang dialami perempuan Indonesia, membuat saya jadi banyak membaca jurnal-jurnal, artikel, dan data tentang perempuan. Dan tentunya banyak sekali fakta yang membuat saya sedikit menghela nafas, ternyata masih banyak sekali perempuan yang mengalami diskriminasi terutama atas hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan.

 Perempuan Indonesia, pada kenyataannya masih banyak tidak mendapatkan hak-hak yang sama seperti yang didapatkan oleh laki-laki. Salah satu contohnya adalah pendidikan yang sama dengan pendidikan yang didapatkan oleh laki-laki. Di daerah-daerah terpencil, masih banyak ternyata anak perempuan yang tidak bisa 'pergi ke sekolah' seperti kebanyakan anak laki-laki. Hal ini akibat stigma yang terbentuk di masyarakat bahwa percuma "perempuan mendapatkan pendidikan toh mereka akan tetap berada di dapur dan membesarkan anak". Padahal, pada kenyataannya, urusan rumah tangga dan membesarkan anakpun membutuhkan ibu yang cerdas -yang tentunya mendapatkan pendidikan yang baik pula-

 Pernah saya berdiskusi dengan salah satu teman dari jurusan kesehatan masyarakat, bahwa banyak sekali perempuan di daerah terpencil di Indonesia, karena tidak mendapatkan pendidikan yang baik, akhirnya tidak bisa mendidik dan mengasuh anak dengan baik pula, akibat yang paling mengerikan adalah, banyak anak-anak Indonesia yang pada akhirnya mengalami gizi buruk yang dikarenakan kemiskinan dan ibu-yang-tidak-terdidik-sama-sekali. Kemiskinan itu pula terjadi karena ibu tidak mempunyai kemampuan apa-apa untuk berada di pasar kerja, akibatnya pekerjaan paling mungkin yang dilakukannya adalah menjadi buruh serabutan atau bahkan tidak bisa bekerja sama sekali sehingga tidak menghasilkan apapun.

 Dengan tidak terpenuhinya pula hak perempuan dalam hal pendidikan, mengakibat kesenjangan yang terjadi kepada perempuan di pasar kerja, jumlah angkatan kerja masih didominasi oleh laki-laki, serta sektor-sektor potensial lebih banyak diisi oleh laki-laki pula ketimbang perempuan. Hal ini, ternyata jika diusut lebih jauh akibat latar belakang pendidikan yang ditempuh laki-laki lebih baik ketimbang perempuan. Bahkan banyak fakta dilapangan perempuan memang banyak mengalami diskriminasi di lapangan kerja, dianggap tidak berpotensi untuk melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh laki-laki, misalnya memimpin. Perempuan dipasar kerja memang lebih diarahkan untuk sektor-sektor yang membutuhkan penampilannya ketimbang gagasan/pemikirannya. Upah yang didapatkan perempuanpun terkadang lebih kecil dibandingkan upah yang didapatkan oleh laki-laki.

 Perempuan-perempuan Indonesia memang harus mendapatkan pendidikan yang sama baiknya dengan laki-laki. Mungkin memang sudah saatnya kita perlu menyamakan definisi kesetaraan gender, agar tidak ada lagi memandang sebelah mata dulu terhadap perempuan-perempuan yang menginginkan dihilangkannya diskriminasi atas hak-hak perempuan di dunia pendidikan maupun pasar kerja, karena bagi saya keinginan kesetaraan itu tidak berlebihan, dan tidak perlu pula dicecar apalagi dilecehkan. Bahkan kalau tidak salah, Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa, perempuan adalah tiang negara, yang artinya perempuan yang cerdas adalah awal dari kemajuannya suatu negara.

Pemimpin Perempuan

Sebagai perempuan yang dilahirkan sebagai anak pertama, (mungkin) menjadikan saya sedikit koleris.
Apalagi sedari kecil saya terdidik untuk memimpin, dimulai dari menjadi kakak bagi adik perempuan saya satu-satunya, sewaktu SD dan SMP sering diamanahkan sebagai ketua kelas, bahkan pemimpin upacara di upacara bendera. Sewaktu SD, SMP, dan SMA, bahkan kepala sekolah saya ketiga-tiganya adalah perempuan, dan mereka semua terlihat stunning, apalagi kepala sekolah SMA saya. Karena itu, dimata saya sah-sah saja bagi saya perempuan memimpin.

Dan saya masih ingat betul waktu Megawati naik posisi menjadi Presiden RI. Waktu, itu saya makin yakin, bahwa perempuan bisa memiliki proporsi hak yang sama dengan laki-laki termasuk sebagai pemimpin. Tapi saya bukan penggemar Megawati, saya bahkan tak sepakat jika beliau memimpin negara ini, bukan karena kodrat dia sebagai perempuan -lemah, cengeng, atau emosional-, tapi karena saya tak melihat kapabilitas dia bisa memimpin negara ini dengan baik.

Beberapa waktu yang lalu, bahkan di Tempo bahkan membahas tentang ibu Tri Risma Harini yang sukses memimpin kota Surabaya sebagai walikota. Hal paling awesome yang saya lihat dari apa yang dia lakukan dia bisa mengubah Dolly dari tempat yang 'menakutkan' menjadi ruang-ruang baca, dan Surabaya sukses memiliki taman-taman hijau yang membuat Surabaya bahkan konon tidak segersang yang dulu lagi.

Makanya, saya sering tak sepaham dan tak masuk akal saya kenapa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin di suatu posisi tertentu, dengan alasan yang juga tak masuk akal, misalnya hormon. Banyak tulisan-tulisan atau kalimat yang pada akhirnya memojokkan posisi perempuan di masyarakat. Misal, karena perempuan memiliki siklus menstruasi di setiap bulannya yang menjadikan emosi tak stabil, hal ini dijadikan senjata bagi beberapa orang untuk menjatuhkan posisi perempuan. Bagi saya pribadi, emosi stabil atau tak stabil itu bisa dikembalikan ke individu masing-masing, saya yakin tiap-tiap perempuan di muka bumi ini sebenarnya bisa memanajemen emosinya dengan baik.

Perempuan juga kadang dianggap tidak terlalu pintar, dan tak punya kapabilitas untuk memimpin, lemah, cengeng, dan sebagainya. Padahal dari beberapa jurnal penelitian yang saya, kenapa perempuan dianggap kurang pintar dan punya kapabilitas dibidang kepemimpinan, dikarenakan mereka tidak dididik untuk menjadi pemimpin. Stereotip tentang perempuan yang kodratnya di dapur dan tidak perlu menempuh pendidikan yang baik, masih terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Banyak perempuan tidak diberikan peluang untuk menempuh pendidikan yang sama baiknya dengan laki-laki. Dan banyak pula steorotip bahwa perempuan yang menempuh pendidikan tinggi (beberapa) diwajibkan untuk masuk ke jurusan tertentu, misal perempuan sebaiknya jadi dokter, bukan enjiner.

Saya rasa, hal-hal sederhana inilah yang menjadikan kenapa perempuan akhirnya juga tersingkir dalam 'pasar pencarian pemimpin'. Perempuan tidak diberikan hak-haknya -seperti terdidik untuk menjadi pemimpin- bahkan kadang hak untuk memimpin dirinya sendiri-pun tidak diajarkan. Karena itu tidak bisa menyalahkan pula kenapa perempuan, pada akhirnya dianggap tidak memiliki kapabilitas sebagai pemimpin, karena memang mereka tidak pernah diajarkan untuk menjadi pempimpin, dan mereka (perempuan) selalu bayang-bayangi bahwa lelaki lah yang pantas memimpin.

Pada akhirnya, bagi saya pendidikanlah yang seharusnya bisa menjadikan seorang manusia -baik perempuan atau laki-laki- sebagai pemimpin, bukan pada gender yang dia miliki.




empati.

just try to put yourself under other people's shoes

 Kita mati, kehilangan empati. Saya, kamu, dia, mereka, dan ntah siapa. Mungkin sebenarnya sudah terkubur dalam sebuah kotak terpendam di dalam lautan dalam-dalam karena sibuk menyelamatkan diri sendiri. Saya tahu, kita punya kesibukkan masing-masing, saya juga tahu kita punya kepentingan masing-masing. Tapi, hidup kita hanya sekali bukan, lalu kalau kita hidup hanya untuk diri kita sendiri, apa gunanya Tuhan menciptakan kita?

 Saya merinding, bergidik, terperangah, hingga meneteskan air mata. Saya tak menyangka (baiklah, ini terlalu generalisasi) membaca opini-opini yang berseberangan hingga judgment yang dikeluarkan menghakimi pedagang Pocin dan mahasiswa UI. Saya tidak pernah ikut demo, tapi saya tak pernah menghakimi itu salah dan perbuatan saya benar. Saya merinding sekali membaca opini-opini dari mahasiswa lain yang menghakimi perbuatan teman-teman UI adalah perbuatan bodoh.

 Kita, yang membaca tulisan ini, mungkin tak pernah tahu rasanya terusir dari pekerjaan yang menghidupi kita, dan jika kita tak punya uang, kita tinggal butuh mengadu pada orangtua, merengek agar rekening bertambah nominalnya. Tapi pernahkah kita mencoba meletakkan perasaan menjadi pedagang, yang kalau lahan kerja kalian ditutup tak tahu harus kemana. Tak tahu harus mengadu kemana. Jika besok hujan harus berteduh kemana. Anak sekolah harus bayar pake apa.

 Coba teman bayangkan, jika diposisi mereka. Coba teman rasakan, apa yang akan-akan teman lakukan saat kehilangan mata pencarian satu-satunya.

 Dan teman-teman mahasiswa, saya ulangi kerasa MAHA didepan siswa - yang memiliki porsi ilmu dan kekuasaan- lebih dipilih orang-orang itu untuk menjadi tempat mengadu. Karena mereka tak punya lagi tempat mengadu, saat para pemerintah bahkan sudah tutup kuping atas teriakkan dan tangis mereka. Memang susah sekali yah, mengeluarkan empati untuk orang lain. Sekedar empati. Rasa sedih yang menimpa orang lain. Seperti diam, tak usah berkomentar negatif, atau mencaci membuat ricuh suasana. Kemudian berasa paling pintar dan sudah melakukan segalanya. Iyah, kita gampang benar terprovokasi kemudian langsung menghakimi.

 Para pedagang itu tidak butuh apa-apa, mereka cuman butuh bantuan untuk diperjuangkan hak-haknya. Lalu para kelas menengah ini, tiba-tiba dengan mulia kasih solusi, 'Cerdaskan pedagang sajalah daripada demo adik-adik mahasiswa.' atau, 'Gara-gara lu demo nih, jalan gue keganggu.' AH!

 Kemudian belum selesai saya menahan rasa getir, saya tak sengaja membaca berita, seorang calon hakim agung, bernama Daming, mengeluarkan pernyataan yang membuat saya getir dan meringis, "yang diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati. Jadi harus pikir-pikir terhadap hukuman mati." Saya kehilangan nafas, mencoba mencerna lagi, kemudian ada lanjutan beritanya, '... dilanjutkan dengan tawa para anggota DPR.' Ah, Bapak yang mulia di sana, dimanakah hati bapak-bapak sekalian. Tak pernah terpikirkah itu anakmu, istrimu, atau keluargamu yang diperkosa hingga mati. Tak pernah kau rasakan keluarga yang sedih menahun karena ditinggal mati.

 Ya, Tuhan. Saya hidup di negeri macam apa?

 Hidup kita sudah lama mati. Terbakar oleh kata-kata tinggi membangun negeri, sampai lupa tetangga yang tak lagi makan nasi.

review Cinta Di Ujung Jari 

 Cinta Di Ujung Jari menyuguhkan kisah cinta yang siap hidang. Cinta yang sudah ada di ujung jari dan kita tinggal duduk tenang menikmatinya. Seolah seluruh cinta di seluruh dunia dirangkum dan siap untuk ditelan. Tulisan Nayasari yang lugas dan tulisan Akhyar yang mengajak kita untuk merenung, merupakan kombinasi yang menarik dari buku ini. - Yunus Kuntawiaji

 Diam-diam saya selalu suka dengan tulisan-tulisan mereka berdua. Menggugah. Memberikan suatu pandangan yang berbeda tentang apa saja. Kisah “Arloji” walau sebelumnya sudah pernah saya baca, entah mengapa kembali hidup lagi memainkan hati, begitu juga dengan kisah “Naira-Utara”. Itulah kekuatan buku ini, bermain dengan hati. - Ana Monica Rufisa

 Cinta di Ujung Jari mengingatkan saya tentang hal itu, tentang salah satu hakikat cinta, bahwa ia tak hanya membuat kita berapi-api, lalu rela melakukan hal-hal besar, tapi terkadang cinta juga membuat dahi dan kening kita berkerut-kerut, tak paham tak mengerti. - Achmad Lutfi

 Naya dengan cerita Naira dan Utaranya yang sampai detik ini saya ragukan kefiksiannya, dengan gaya bahasa, sudut pandang ,dan definisinya sendiri tentang cinta dalam cerita tersebut. Kemudian Akhyar dengan kekhasannya pula bercerita tentang cinta dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan beberapa kisah cinta yang kadang aneh ditulis disini. Tapi itulah sudut pandang. - Kurniawan Gunadi 

 Buku bisa pesan di cintadiujungjari@gmail.com dengan format Subject : Pesan_Nama Details 

Penulis: Muhammad Akhyar & Nayasari Aissa
Ilustrator dan Pendesain Kulit Muka: Ragillia Rachmayuni 
Foto: Pravitasari Ilustrator Dalam: Sri Suryani 
Penata Letak: Dian Kusumawardhani 
Date Published: Januari 2013 
Type: SOFT COVER 
No. of Pages: 120 halaman 
Penerbit: Langit Sastra Harga Rp. 60.000,- (diluar ongkos kirim), seluruh keuntungan penjualan diberikan untuk @SBMatahari. 

Sila dipesan, terimakasih :)

dua desember dua ribu dua belas


karena hidup itu tentang memilih, saya selalu percaya ini. dan saya, seharusnya, bersyukur karena selalu dihadapkan pada pilihan, setidaknya.

dan setelah waktu itu saya telah memutuskan hingga sejauh ini. ah iyah, jika saya boleh jujur, maka, tentu perjalanan ini tidaklah mudah. berapa banyak hal yang akan kita korbankan bersama. hidup saya, hidup kamu, untuk hidup kita nanti. 

saya, tentu, sejauh ini (lagi) sudah mengalami perasaan yang turun-naik tak menentu. baikkah ini? benarkah ini? inikah yang terakhir? ah iyah, Tuhan jago betul dalam urusan membolak-balikkan perasaan. tidak, saya tentu tidak ingin menyalahkan Tuhan atas kuasaNya, saya hanya menjadikan Tuhan sebagai alibi atas kelemahan saya, atas ketidak-tahuan saya, atas perasaan gelap tentang masa depan. salah kah saya (Tuhan)?

di dekatnya aku lebih tenang, bersamanya jalan lebih terang.

saya tak tahu ini benar atau salah, tapi setelah saya berbincang banyak padaNya, dan setelah menimbang ini dan itu. dan terus meyakinkan pada diri -untuk jalan yang kabur satu ini- saya hanya ingin percaya padaNya, saya juga ingin berbaik-sangka padaNya, bahwa Dia akan menuntun saya dan kamu (kita) pada jalan terbaik dariNya,

iyah, jika memang ini adalah pilihan dari-Nya. 

untuk kamu - masa depan.

Pertanyaan Tentang Tuhan


Tiba-tiba saya menyadari, bahwa saya sangat kecil dan lemah sekali jika dibandingkan dengan kekuasaanNya. Sungguh, kalau dipikirkan kembali apalah artinya saya, tanpaNya.

Sayajuga menyadari bahwa ternyata saya tidak ada kuasa apapun terhadap diri saya sendiri, atas keberjalanan semua hal dalam hidup. Saat saya sedang rapuh dan terjatuh, saya butuh 'sesuatu' yang menyokong saya agar tetap bangkit lagi. Dan saya tidak menemukannya kepada siapapun selain Tuhan. Saya seringsekali menangis, dan diam-diam saya berbicara denganNya dengan bahasa yang hanya dipahami 'kami' berdua. Entah mengapa saya menjadi lebih aman, lebih tenang. Ah iyah saya lupa, bahwa kita ini adalah makhluk sosial, tidak akan benar-benar bisa mengatasi kesepian dan kesendirian. Sekalipun disaat kita benar-benar merasa ingin sendiri, kita tetap ingin ditemani.

Benar kalau ada yang mengatakan, bahwa Tuhan, diciptakan 'manusia' untuk menyatakan, bahwa sebenarnya kita ini seringkali berada dalam ketiadaan dan kekosongan. Tapi di sanalah Tuhan bersemayam.

Tuhan, membuat saya aman, nyaman dan tidak merasa sendirian. Ada tempat yang mampu diandalkan walau Dia tidak terlihat. Bahwa hidup ini adalah tentang kepercayaan. Saya menuhankan Dia, yang tidak terlihat dengan kasat mata, karena saya butuh pegangan dan 'sesuatu' yang saya percayai itu.

Tapi kepercayaan, juga, berhubungan dengan pertanyaan. Bagi saya, iman itu adalah sebuah pertanyaan. Begitu juga cinta adalah sebuah pertanyaan. Iman dan cinta saya pada Tuhan, seringkali menjadi pertanyaan besar dan terus menerus yang tidak pernah selesai. Tapi bagi saya itulah kuncinya. Semakin saya mempertanyakan, saya  merasa makin 'menemukannya' dengan cara yang berbeda. Saya malah khawatir, jika suatu saat saya tidak bertanya-tanya lagi tentang Dia, jangan-jangan saya sudah membunuhNya dari hati saya, hingga Dia larut dan menggenang lalu hilang.

Zakaria

Saya mau cerita dulu, saya suka suka banget dengan sebuat kalimat penuh pasrah dari seorang Nabi kita bernama Zakaria, isinya begini,

'… Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu ya Tuhanku..'

Kalau bagi saya, doa ini terlampau bagus sekali (tentu saja karena yang berdoa itu adalah Nabi), di sini posisinya Zakaria sedang mengadu, meratap betapa dia galau karena belum memiliki keturunan untuk meneruskan tugasnya. Saat itu umur Zakaria (kalau tidak salah) hampir menyentuh 100 tahun #cmiiw. Berarti selama 100 tahun sebelumnya, dia sudah mengalami banyak hal dalam hidupnya, sudah banyak yang dilalui, tapi tak pernah sedikitpun dia kecewa atas doanya, kepada Tuhannya. Di sini tersirat juga rasa syukur yang begitu besar, saya memaknainya rasa syukur tentang apapun yang telah dia lalui atas apapun yang terjadi pada seratus tahun ke belakang.

Dan jika diserap lagi maknanya (menurut saya, semoga Allah mengampuni saya), ada begitu besar kepercayaannya kepada Tuhan penciptaannya. Sungguh mulia Zakaria AS, nabi kita semua. 
Hidup ini dimulai dengan kata percaya. Muhammad Saw itu memiliki julukkan yang 'terpercaya'. Dan Khadijah adalah orang yang paling mempercayai beliau, untuk mempercayai tentang Tuhan yang diceritakan Nabi Saw. Semuanya dimulai dengan kata percaya. Lalu kita ikut mempercaya Muhammad atas pesan-pesan dari Tuhan yang dibawanya. 

Menurut hadits Arba'in, tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Kalau dari pandangan saya Islam (dengan rukun Islamnya) dan Iman (dengan rukun imannya), adalah saling melengkapi. Islam artinya kita melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuhan, syahadat, shalat, puasa, bayar zakat, dan naik haji bila mampu, tapi takkan lengkap jika kita tidak beriman kepada Tuhan, Malaikat-malaikatNya, RasulNya, KitabNya, Hari AkhirNya, dan ketentuan-ketentuan tetap (Qada dan Qadar-Nya). Kita takkan bisa berIslam saja, tanpa beriman, dan takkan sempurna jika berIman tanpa berIslam. Kemudian tahap ketaatan paling tinggi adalah Ihsan, percaya bahwa dia melihat segala yang kita lakukan. 

Semuanya dilandasi dengan rasa percaya. Zakaria percaya kepada Tuhan akan dikabulkan doaNya. Dan Muhammad butuh kepercayaan umat agar mampu berdakwah dengan baik, dan dengan baiknya pula Tuhan mengirimkan Khadijah padanya. Dan semua ini karena sebuah hal bernama takdir.

Takdir yang telah ditetapkan Tuhan saat kita masih berbentuk nutfah di dalam rahim, yang kemudian Tuhan dengan sigapnya menuliskan di Lauhul Mahfuz pada data-data kita. Luar biasa. Bukan Tuhan tentunya jika tak mampu mengatur segala hal dengan sedemikian sempurna.

Dari sini, saya mau menarik benang merah dari tulisan saya. Zakaria dalam doanya, ada kepasrahan, ada rasa syukur yang begitu besar, ada rasa kepercayaan akan takdir-takdir selanjutnya dan juga sebelumnya. Dan Zakaria AS, sukses membuat saya berfikir panjang saat membaca doa yang dia panjatkan. Percaya akan takdir yang telah dibuat Tuhan untuk kita semua. Einstein bilang, Tuhan tidak sedang bermain dadu dalam menciptakan dunia ini, termasuk segala isinya. Tentu mereka yang mengaku muslim harus percaya, bahwa takdir utama kita diutus untuk hidup di dunia sesuai dengan perintahnya yaitu,

'... Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu.'

Sesederhana itu. Dia tidak menciptakan manusia, kecuali untuk menyembahNya, yah tentunya pengertian ayat ini akan berlanjut pada penjelasan yang panjang, dan tidak akan saya tuliskan di sini.

Sungguh, saya menuliskan ini karena terlalu lama bergemuruh di dalam otak dan harus segera dilahirkan. Kepada Allah saya mohon ampun. Jika ada kritik sila di sampaikan. Wallahu a’lam bish shawabi ~
10 Oktober 2012

Jadi begini. Ntah mengapa beberapa hari ini saya terus-terusan memikirkanmu, tidak secara spesifik memikirkanmu, karena saya benar-benar tidak tahu siapa kamu, dimana kamu, dan sedang apa kamu (for reader’s information, saya sedang tidak menyanyikan lagu Kangen Band, sungguh). Yang pasti saya benar-benar clueless tentang kamu, karena itu saya sedikit berdebar-debar jika membayangkan tentangmu.

Saya membayangkan, jika suatu saat kita, ehm, -sebut saja bertemu karena memang sudah takdirNya yang membawa kita berdua untuk bertemu- apakah saya sudah benar-benar siap untuk bertemu dengan kamu (dan begitu juga kamu), kemudian -dengan sedikit geli saya harus mengatakan- menjalin cinta dan kasih yang juga sudah ditakdirkanNya kepada kita berdua.

Kamu, mungkin saja lelaki yang sudah saya kenal sejak lama tapi tak pernah saya perhatikan dengan seksama. Atau bisa saja salah satu dari sahabat-sahabat lelaki (gila) saya saat ini -tapi sungguh semoga tidak. Atau kamu adalah musuh politik saya sewaktu menjadi aktivis kampus. Atau mungkin kamu adalah lelaki yang pernah membaca buku yang sama di sebuah toko buku yang saya dan kamu kunjungi. Atau malah bisa jadi kita tak pernah mengenal sama sekali, tak pernah berada di ruang dan waktu yang sama (bisa saja saya di Selatan dan kamu di Utara di arah mata angin milik kita berdua) tapi Tuhan mengikat kita dengan seutas benang merah yang tak pernah kita ketahui.

Kamu biasa siapa saja. Dan saya tidak akan pernah tahu sampai kita benar-benar bertemu, kemudian kamu datang ke ayah saya dengan segala keberanian yang kamu miliki.

Jika saya egois, tentu saya akan berdoa pada Tuhan bahwa kamu harus berambut gondrong, hitam manis, rapih dengan kemeja dan celana jeansmu, lalu rokok Gudang Garam, dan tidak ketinggalan motor Tiger merahmu. Tapi saya tidak hanya ingin satu-dua hari bersamamu, saya ingin berhari-hari menghabiskan hidup denganmu. Karena saya rasa semua kriteria yang saya sebutkan di atas, saya tak yakin bisa membawa kamu, saya, dan anak-anak kita ke surga. Tapi saya janji, saya akan selalu berdoa semoga kamu bisa menjadi imam yang baik bagi saya dan ayah yang amanah bagi anak-anak kita kelak.

Karena hidup saya nantipun, tidak akan jadi hidup saya sendiri lagi. Hidup saya akan jadi bagian hidupmu, dan begitu sebaliknya. Dan hidup kita akan menjadi hidup anak-anak kita kelak, karena hidup mereka adalah bagian dari hidup kita.

Saya tahu terlalu picisan saya menuliskan ini untuk kamu yang bahkan ntah siapa. Tapi sungguh saya tidak tahu lagi harus berbuat apa (selain berdoa dan mengadu padaNya). Anggap saja ini bentuk ke(tidak)sabaran saya menunggu makin didekatkannya benang-benang penghubung kita berdua oleh-Nya.

Untuk kamu -yang bisa siapa saja-, selamat malam (sungguh semoga segera kita berada pada dimensi -ruang dan waktu- yang sama, aamiin).

Menikah

Beberapa minggu yang lalu, waktu saya ngobrol panjang dengan Kak Kaca, banyak hal yang menyadarkan saya tentang hal bernama ‘menikah’. Pada saat saya berumur 19 tahun, itu sekitar 4 tahun yang lalu (astaga tua banget gue cuy!), saya sebenarnya bercita-cita menikah di umur 20 tahun, dan itu tanpa persiapan dan juga tanpa usaha untuk mendapatkan jodoh yang tepat. Saya pengen nikah, biar ada ‘temen halal’ yang bisa diajak kemana saja dan kapan saja, tanpa perlu risih. Dan ternyata, saya belum berhasil mewujudkan mimpi saya yang waktu itu.

Setahun yang lalu, saya bercita-cita kembali, ‘harus banget nikah tahun 2012’. Alasannya? Saya mau punya temen hidup satu visi-dan-misi yang mampu menemani saya untuk mencapai mimpi-mimpi saya, dan tentunya menjaga ‘segala’ yang telah saya miliki saat ini, termasuk stabilitas iman. Suami itu menurut saya, adalah orang yang paling tepat (setelah ibu) yang mampu menjaga stabilitas iman yang sering naik-turun. Apalagi, kehidupan pasca-kuliah itu, mengerikan (kata orang-orang), yang pasti kita kehilangan teman-teman dekat yang dulu selalu ‘menjaga’ kita dengan aman. Belum lagi, bagi saya, pasca-kuliah itu, pencarian jati diri yang sesungguhnya dimulai, idealisme-idealisme masa menjadi mahasiswa dulu mulai diuji kesungguhannya, istiqomah atau tidak diri kita ini atas apa yang sudah dibangun dulu. And, for sure, we need life-long-partner to remind us, walking beside us, together and forever.

Setelah mengobrol banyak dengan beberapa orang tentang menikah. Saya menarik kesimpulan bagi saya sendiri, menikah itu adalah keberuntungan, dimana kesiapan bertemu dengan kesempatan, dan keberuntungan itu yang kita buat sendiri. Menikah itu bukan lagi jadi sekedar kebutuhan, dimana kita butuh life-long-partner hanya sekedar untuk mengingatkan kita bangun pagi, ngingetin tahajud, shalat, puasa, ngaji, dan berlaku baik-baik, menikah tidak sesederhana itu.

Kitalah, diri kita sendiri yang seharusnya bisa konsisten untuk melakukan itu semua. Saya tidak ingin menikah untuk berubah jadi lebih baik, dan saya juga nggak kepingin memperbaiki diri agar bisa menikah. Saya mau jadi manusia yang baik -sesuai dengan keinginan Tuhan saya- yah untuk diri saya sendiri, bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk apa-apa.

Tahun lalu saya merasa bersalah sekali dengan diri saya, dan sulit sekali memaafkannya. Dan (bodohnya) saya pikir dengan menikah bisa menyelesaikan masalah saya. Karena, saya tidak akan galau lagi. Karena saya punya temen ngobrol sepanjang malam. Karena saya akan mencari orang yang juga gemar membaca buku, biar saya punya teman diskusi sepanjang waktu. Tapi bukan itu, point-nya ternyata. Kak Kaca mengingatkan saya, dia bilang, ‘Kalau kamu belum ‘selesai’ dengan dirimu sendiri. Bagaimana mungkin menambahkan orang lain, Dek.’ That’s the point. Dan saya tersadar, benar-benar tersadar. Saya harus selesai urusan dengan diri saya sendiri. Saya tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Menikah juga buka perlombaan. Waktu saya tahu sahabat baik saya menikah tahun lalu, ada perasaan ‘gue juga mauuu tahun ini’. Tahun ini bahkan, orang-orang terdekat saya malah mulai menikah satu-per-satu. Takut ditinggal? Pasti! Mungkin kalau di arena balap, kita boleh saling mendahului. Dan menikah tidak terjadi di arena balapan. Ini masalah nikah! Masalah menghabiskan sisa 2/3 umur kita, dan jangan sampai gelap mata karena liat orang lain bisa duluan, lalu kamu jadi tergesa-gesa dan ingin mendahului. Karena setiap orang, sudah punya takdirnya masing-masing, and the importan things that you must remember is, you’ll have your own fate. Your prince charming, will come at the right time and with right reason.

Saya selalu berangan-angan, life-long-partner saya ini seperti apa sih nantinya. Setiap perempuan (begitu juga laki-laki) pasti punya ‘checklists’-nya sendiri. Ada yang ingin ganteng, tinggi, jago basket (anak SMA banget ini, haha), mantan aktivis kampus, atau hobi baca buku. Tapi, kamu yakin, orang-orang yang sesuai dengan checklist ini adalah yang tepat bagi kamu? Kadang mereka yang dikirimkan oleh Tuhan -dan berbeda jauh dengan ‘checklists’ milik kamu ini- adalah yang paling tepat kamu. God always knows what you need, guys. Tapi walau, Tuhan Maha Baik dan Maha Tahu Segalanya atas kebutuhan kita. Saya percaya Dia tidak egois, Dia adalah tempat curahan terbaik. Dia tahu, tapi Dia menunggu. Dia tahu yang terbaik buat kita, tapi Dia menunggu kita untuk memohon agar makin meyakinkan Dia bahwa kita percaya dengan pilihan terbaiknya. Dan doa akan selalu jadi kuncinya.

Saya ga tau, prince charming saya ini datang kapan. Hari ini, besok, bulan depan, tahun depan, atau tiga tahun lagi. Kayak saya bilang di atas, menikah itu salah satu bentuk keberuntungan, dia datang saat kesiapan bertemu dengan kesempatan. Jadi saya cuman butuh siap-siap (dan tidak berhenti berdoa), jika nanti kalau kesempatannya udah datang, i can face it!

‘Getting married isn’t going to solve our inabilities to wake up for Fajr or get up for qiyam. We need to develop our own selves without expecting marriage to somehow magically change our lives. Marriage can be a great tool of self-improvement and can help us change for the best, with Allah’s will. Marriage is amongst the greatest blessings that Allah (swt) can bestow on a person; and the creation of a family, and taking care of that family, is amongst the greatest acts of worship. But if we are not personally working on ourselves now, how can we expect that it will be easier with the additional baggage of another individual who is also imperfect?’ - Maryam Amirebrahimi 

Terimakasih yang merelakan waktunya untuk membaca tulisan ini, selamat pagi dan semoga kebaikkan selalu bersama dengan kita! Aamiin!

Tentang Al Quran

Bismillah.

Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakanmu.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari sabtu dan minggu, saya datang ke dua buah seminar (atau majelis ta'lim mungkin yah) yang berbeda, tetapi kedua-duanya sama-sama membahas tentang Al Quran. Melalui tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi ilmu apa saja yang saya dapat pada kedua hari tersebut.

Hari Pertama.

Acara ini sebenarnya berupa seminar keluarga, dengan judul acara 'Membangun Keluarga Generasi Qur'ani' yang diadakan oleh teman-teman PESIAR UI di Masjid Ukhuwah Islamiyah jam 9 pagi hingga menjelang zuhur. Ada lima pembicara, Ust. Budi Dharmawan dan anaknya (mereka adalah suami dan putera alm. Ustadzah Yoyoh Yusroh), Ustadzah Aan Rohanah, Wirdah Salamah Ulya (hafidzah dari Ust. Yusuf Mansyur), dan Faris Jihady (Hafidzh).

Dari judulnya, kita pasti sudah menebak bukan isi acara ini keseluruhan, apalagi pembicaranya yang kesemuanya adalah penghafal Al Quran.

Pada obrolan singkat ini, saya merasa mendapatkan angin segar betapa penting seorang muslim mengerti kitabnya dengan baik dan benar. Apalagi bagi seorang muslim, AL Quran dan Sunnah Nabi adalah pedoman paling utama untuk para muslim.

Pada acara ini, para pembicara masing-masing memaparkan tentang latar-belakang kenapa perlu seorang muslim menghafal Al Quran, dan mereka juga berbagi tips agar  kita dimudahkan dalam mempelajari AL Quran. Pembicara awal adalah Ust. Budi yang merupakan suami alm. Yoyoh Yusroh, yang menceritakan bahwa pentingnya sebuah keluarga yang ingin menjadi generasi sebaik generasi para sahabat Rasul saw, yang dimulai dari membangun keluarga sendiri. Karena, sebuah peradaban pasti terdiri dari keluarga-keluarga kecil di dalamnya. Jika ingin menghasilkan generasi yang mencintai, mengamalkan, dan menghafal Al Quran tentu harus dimulai dari keluarga sendiri. Dan untuk memulai membangun keluarga yang baik adalah dengan mulai mencari calon ibu/ayah yang baik bagi anak-anak kita kelak.

Yang paling menyentuh adalah saat putri Ust. Yusuf Mansyur bercerita tentang bagaimana dia memulai untuk menjadi seorang hafizah. Pada saat dia berumur 8 tahun, dia pernah bermimpi didatangi oleh Rasulullah saw dan Abu Bakar r.a, intinya, Rasulullah berpesan, jangan mudah menyerah untuk menghafal Al Quran karena Allah pasti memudahkan umatNya yang ingin menghafal. Wirdah juga memberikan tips bagi mereka yang ingin menghafal yaitu, menjaga pandangan dan menggunakan hijab. Subhanallah, di umur yang baru menginjak 11 tahun, sudah menjadi seorang hafizah, pernah bertemu Rasulullah bahkan dibacakan surah Muhammad. Rasanya waktu mendengar cerita ini, badan saya merinding dan mengharu biru hingga meneteskan air mata. Malu betul. Bagi yang ingin juga menyimak ceritanya sila menonton disini.
Singkat cerita, dari acara ini mengajarkan saya untuk menjadi muslim yang jauh lebih baik lagi, saya tidak tahu kelak saya bisa seperti mereka atau tidak menjadi seorang hafizah, tapi mencoba tidak ada salahnya bukan? Karena Allah pasti memudahkan umatNya yang bersungguh-sungguh, sungguh itu janjiNya. Yang pasti saya sungguh ingin berterimakasih kepada PESIAR UI dan para pembicara, semoga Allah selalu merahmati mereka.

Hari Kedua.

Acara ini diadakan oleh (sepertinya) Nurul Fikri, saya juga kurang tahu sebenarnya, hahaha. Jadi ini sejenis majelis ta'lim dimana saat saya datang isinya seluruhnya ibu-ibu rumah tangga #baiklah.

Disini ilmu yang saya dapatkan tentang sejarah turunnya Al Quran, mulai dari asal muasal arti Al Quran yaitu yang berasal dari kata Qara'a yang artinya bacaan. Al Quran juga dianggap sebagai mukjizat terbesar bagi Rasulullah, dan penutup bagi kitab-kitab yang pernah ada. Disini juga dijelaskan, mengapa Al Quran sebagai mukjizat bagi Rasulullah, bukan mukjizat yang didapatkan oleh Musa a.s ataupun Isa a.s. Karena, turunnya suatu mukjizat sesuai dengan kondisi dan keadaan bangsa pada masa tersebut. Pada masa hidupnya Rasulullah saw, kaum Quraish menyukai syair-syair, maka karena itulah Allah melalui malaikat jibril menurunkan Al Quran yang begitu indah bahasanya. Hingga saat ini, belum ada yang mampu menandingi indahnya bahasa Al Quran.

Membaca Al Quran, kebaikannya dihitung per huruf, karena itu, sungguh besar amal kebaikan saat membaca Al Quran. Al Quran di turunkan kepada Rasulullah secara mutawatir, artinya berurutan, tidak langsung. Karena ayat-ayat ataupun surah-surah pada Al Quran memiliki kandungan tersendiri, karena fungsinya menyesuaikan kondisi pada saat itu. Misalnya, ada surah yang turun karena menjawab pertanyaan-pertanyaan atau keadaan pada masa itu. Selain itu, turunnya Al Quran tidak sekaligus, agar mempermudah proses menghafal bagi Rasul dan para sahabatnya.

Surah-surah Al Quran terbagi menjadi dua kategori, yaitu makiyyah dan madaniyah. Kategori makiyyah turun saat Rasulullah saw belum hijrah, biasanya berisikan tentang aqidah, akhlak, dan juga kisah-kisah nabi terdahulu dan kategori madaniyah yaitu surah yang turun setelah Rasulullah hijrah.

Al Quran adalah satu-satunya kitab yang tidak pernah mengalami perubahan walau Rasulullah sudah wafat, mushaf (lembaran-lembaran) Al Quran yang kita baca saat ini sama persis dengan yang Rasulullah dapatkan dari malaikat Jibril. Karena itu, pentingnya bagi seorang muslim menghafal Al Quran adalah untuk menjaga keaslian Al Quran. Dengan membaca tajwidnya dengan benar pada setiap ayatnya, tentu Al Quran akan selalu terjaga kemurniannya hingga akhir zaman. Adapun kewajiban seorang muslim lainnya terhadap Al Quran yaitu, mengimaninya dari surah pertama hingga surah ke 114, mengamalkannya, kemudian mendakwahkannya - walau kita tidak perlu menjadi penceramah, cukup dengan mengamalkannya hingga mampu dicontoh oleh muslim lainnya.

Di akhir ceramah Ustad mengatakan, bahwa mungkin menghafal Al Quran ataupun mempelajarinya akan terasa sulit, tapi Allah selalu berbaik hati dan memudahkan bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sekian tulisan singkat saya tentang Al Quran, jika ada salah kata kepada Allah saya mohon ampun. Semoga yang membaca mampu mengambil manfaatnya, dan mampu meneruskan mampu membangun generasi Qur'ani seperti pada zaman sahabat-sahabat Rasulullah saw. Semoga Allah selalu memudahkan niat baik bagi yang selalu bersungguh-sungguh. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Tulisan lain tentang Penghafal Al Quran hasil datang dari Sekolah Perempuan Annisa Gamais ITB (tahun lalu).

selamat ulang tahun ke 110, bung! :)

Istri Soekarno Atau Istri Hatta?

Sebuah pesan singkat masuk di telepon genggam saya sore ini, 'istri Soekarno atau istri Hatta?'. Ntah apa maksud pengirimnya, yang pasti saya dengan sigap langsung menjawab, 'istri Hatta kak! Fix!'

Setelah mengirim pesan tersebut, saya jadi kepikiran kenapa yah saya lebih suka dengan Bung Hatta ketimbang Bung Karno? Mungkin karena Hatta asalnya dari Padang, sama-sama orang Sumatera. Baiklah alasan ini tidak terlalu logis, tapi memang seperti itu, biasanya orang satu pulau, lebih satu pikiran. Hatta dan Soekarno itu sama-sama penulis, sama-sama pembaca buku, bahkan setahu saya Hatta lebih 'maniak' dibandingkan Soekarno. Kalau tidak salah, Hatta itu memiliki sebuah perpustakaan pribadi, dengan koleksi buku (termasuk tulisan dia) sebanyak 30ribu. Yang paling kocak, tentang Hatta dan buku, adalah waktu dia dan Sjahrir di Digoel, dimana dia harus merelakan 6 peti buku yang dia bawa, karena harus membawa 3 anak angkat mereka. Dan, saya juga lebih banyak punya buku-bukunya Hatta ketimbang Soekarno, artinya Hatta memang lebih produktif menulis dibandingkan Soekarno.

Untuk masalah kepribadian, saya memang lebih suka Hatta yang -saya anggap- lurus dan tidak neko-neko. Tidak banyak omong, tetapi jika dia sudah bersuara, apa yang dia katakan, kalo kata anak jaman sekarang, makjleb semua. Tapi Hatta dan Soekarno itu saling melengkapi. Walau Hatta tidak lebih baik dibandingkan Soekarno, dan Soekarno juga tidak lebih baik dibandingkan Hatta. Makanya, dulu pasangan ini diagung-agungkan oleh rakyat Indonesia, walaupun hubungannya harus kandas di tengah jalan.

Bahwa Hatta itu lebih sederhana jika dibandingkan dengan Soekarno, informasi ini saya dapatkan dari beberapa buku sejarah tentang mereka yang saya baca. Beberapa waktu yang lalu pula, saya sempat membaca tulisan di Kompas, yang menceritakan tentang perbedaan negarawan dulu dan politisi jaman sekarang. Di artikel tersebut, diulas kembali mengapa Hatta menjadikan 'Alam Pikiran Yunani' sebagai mas kawinnya untuk Bu Rahmi, sederhana saja, harta yang paling berharga bagi Hatta adalah buku. Berbeda sekali dengan politisi-politisi saat ini yang orientasinya lebih keuang, tak heran banyak sekali koruptor kembali menjajah negeri ini habis-habisan.

Dari yang saya tahu, bagi saya Hatta adalah muslim yang baik, terlepas dari banyak cerita miring antara Hatta dan Islam, saya meyakini dia memiliki alasan tersendiri. Tapi dari tulisan-tulisan dia yang saya baca, dia sudah mencapai kriteria 'suami-muslim-idaman' standar saya.

Jadi, setelah tulisan panjang ini, walau ntah apa maksud pesan singkat itu, tapi interpretasi dari saya, saya akan lebih memilih menjadi istri Hatta dibandingkan istri Soekarno. Soekarno memang baik, lelaki ambisius nan romantis dan gombal, tapi mungkin, saya akan menghabiskan hidup dengan penuh kecemburuan, karena romantisme suami saya harus dibagi-bagi dengan wanita lain. Ntahlah, saya tak rela. Tentu saya ingin menghabiskan dengan lelaki yang hanya mencintai saya saja, seperti Bung Hatta ke Bu Rahmi, semoga! Hahaha.

By the way, terimakasih Kak Kaca, untuk pesan singkatnya!
Tuhanku 
Dalam termangu 
Aku masih menyebut namamu 
Biar susah sungguh mengingat 
Kau penuh seluruh

saya suka sekali, bagian ini dari puisi-nya Chairil Anwar, 'Doa'. mampu membuat saya mengalirkan air mata begitu derasnya. terimakasih!

Pendidikan Toleransi dalam Beribadah

i believe the children are our future 
teach them well and let them lead the way 

 Saya masih ingat, sekitar 2 tahun yang lalu, saya mulai percaya bahwa tidak ada anak yang nakal di dunia. Saya dan teman-teman saya, waktu itu saat masih mengajar di skhole, kami berjanji tidak akan memarahi anak dengan kata ‘nakal’. Pak Kobayashi -kepala sekolah Tomo Gakuen- pada buku Totto Chan-pun, tidak pernah memarahi anak-anak dengan sebutan nakal, dia selalu berkata, ‘kamu anak yang baik, bukan?’. Semua dari mereka terlahir baik, karena mereka adalah cahaya bagi dunia ini. Begitupun sekarang, saya masih percaya tidak ada yang nakal, hingga nanti seterus-seterusnya, saya akan percaya.

 Pak Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya ‘Menuju Manusia Merdeka’ pernah menuliskan tentang anak yang baru lahir, mereka bagaikan selembar kertas putih, orang dewasa (dalam hal ini orangtua mereka dan guru-guru mereka)-lah yang bertugas untuk mengisi kertas putih tersebut. Orangtua dan gurulah, yang memiliki tanggung jawab besar akan menjadikan anak itu seperti apa ke depannya. Dalam buku lain tentang pendidikan anak usia dini yang pernah saya baca, masa keemasan anak terdapat pada usia 0 hingga 7 tahun. Pada masa-masa itulah, masa depan, atau karakter anak akan ditentukan ke depannya. Dari sini, kita melihat, bahwa yang menentukan anak baik-atau buruk ke depannya adalah bagaimana, orangtua mendidik mereka.

 Beberapa waktu yang lalu, ada kasus seorang anak SD yang mencuri telepon genggam miliknya, dan kemudian menusuk temannya dengan pisau karena ketahuan mencuri. Lalu, Komnas Anak membantu proses hukum yang diberikan pada anak tersebut. Dan, saya masih ingat betul, Kak Seto sempat berkata, bahwa ‘pelaku penusukkan’ sebenarnya juga adalah korban. Korban akibat pendidikan yang didapatkannya tidak baik. Bisa salah orangtua, lingkungan sekitarnya (pergaulan dia di sekolah), bahkan mungkin pemerintah karena tidak memberikan tayangan yang baik di televisi, yang mencontohkan banyak sekali adegan kekerasan yang tidak mampu dicerna dengan baik.

 Dalam hampir satu minggu ini, saya menyaksikan betapa masih banyak orangtua yang masih belum mampu mendidik anaknya dengan baik. Shalat taraweh itu baik, mengenalkan pendidikan agama sejak anak-anak itu juga baik. Tapi mengganggu ketentraman/kekhusyukkan orang lain saat beribadah, sepemahaman saya itu tidaklah baik. Mengaji dengan suara keras saja, jika ada orang lain yang sedang beribadah dan mengganggu tidak boleh. Padahal mengaji adalah bentuk ibadah. Taraweh, yang sunnah hukumnya, tidak wajib dilakukan di masjid, bahkan tidak berdosa jika tidak melaksanakannya, seharusnya tidak memberatkan para orangtua dengan membawa anak-anaknya yang belum mengerti betul gunanya beribadah.

Ntahlah, saya memang belum berkeluarga, tapi saya berjanji, jika kelak nanti saya punya anak, saya tidak akan mengajak mereka shalat taraweh sampai mereka mengerti betul betapa pentingnya shalat tersebut. Pendidikan agama itu penting, mengenalkan anak lingkungan masjid juga tidak kalah pentingnya, tapi tidak mengganggu orang lain yang ingin beribadah tentu akan lebih baik lagi bukan? Pernah ada suatu kisah, Rasulullah saw mendapati seekor kucing meniduri jubahnya, tetapi karena Rasulullah saw tidak ingin membangunkan kucing tersebut, dia membiarkan kucing tersebut untuk tetap tidur di atas jubahnya. Hubungannya dengan orangtua yang membawa anak-anaknya yang masih anak-anak ke masjid saat shalat taraweh adalah, sebegitu pengertiannya Rasulullah tidak ingin mengganggu orang lain, bahkan hewan sekalipun.

 Toleransi. Saat ini, adalah barang yang mahal di negara ini. Betapa banyak kasus toleransi yang tidak habis-habisnya dibahas. Untuk ukuran sesederhana ini - membiarkan orang lain beribadah sebaik-baiknya - saja sesama umat muslim. Apalagi, toleransi kepada mereka yang berbeda agama. Orangtua-orangtua tersebut tidak mampu mendidik anaknya agar menghormati orang lain yang ingin beribadah dengan khusyuk. Orangtua-orangtua itu membiarkan ego mereka yang juga ingin beribadah, tanpa memperhatikan kebutuhan orang lain. Jadi, jangan salahkan, jika 20 tahun lagi, akan banyak terjadi perdebatan - permusuhan, akibat tidak adanya toleransi satu dengan yang lain.

 Saya tak mampu menyalahkan perilaku anak-anak yang gemar bermain di dalam masjid, teriak dan menangis di kala imam sedang dengan khusyuknya membacakan ayat Al Quran, atau bahkan berlarian di sepanjang shaf hingga hampir menginjak kepala orang yang sedang shalat. Tidak ada anak yang nakal, yang ada orangtua tidak mampu mendidik anaknya dengan baik. Mereka tidak mampu disalahkan, karena mereka belum mengerti betul memisahkan mana perbuatan yang baik dan buruk. Yang salah, menurut saya adalah tetap orangtuanya, karena tidak mampu untuk mendidik anak dengan baik.

 Ntahlah, ini hanya perenungan bagi saya saja, agar kelak jika saya memiliki anak suatu saat nanti. Saya tidak akan membiarkan ego saya beribadah hingga menyusahkan orang lain yang juga ingin beribadah. Akan ada banyak cara mengajarkan anak pendidikan agama sejak dini, mengenalkan mereka dengan lingkungan masjid. Dan mengajak mereka taraweh sejak usia dini, menurut saya bukanlah solusinya.

 Wallahua’allam bissawap. Kepada Alloh saya mohon ampun.
top